Distan Banten Anjurkan Penjual Hewan Kurban Berjualan Secara Online

  • Whatsapp

SERANG (SBN) — Karena tren kasus positif covid-19 terus melonjak selama sebulan terakhir ini, sejak 3 Juli lalu pemerintah memberlakukan PPKM Darurat se-Jawa dan Bali.

20 Juli mendatang akan ada perayaan Hari Raya Iduladha atau biasa disebut Hari Raya Kurban untuk umat muslim dan tentunya masyarakat banyak yang mencari hewan kurban.

Read More

Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian Provinsi Banten drh. Ari Mardiana mengimbau kepada para penjual hewan kurban agar menjual dengan memanfaatkan media sosial atau secara online untuk menghindari kerumunan di lapak.

“Kita sarankan kepada penjual hewan kurban agar pelaksanaan penjualannya secara online. Mungkin diiklankan lewat status WA atau semacamnya untuk menghindari kerumunan,” ucap Ari saat memonitor di lapak penjualan hewan kurban di Cipocok, Kota Serang, Jumat (9/7/2021).

Pihak Distan, sambungnya, telah memeriksa lapak hewan kurban di tiga kabupaten/kota di Banten. Kabupaten/kota yang lainnya menyusul.

“Kita melakukan pemeriksaan ini untuk mengecek kesehatan hewan, terutama pemantauan penyakit hewan menular. Banten sampai saat ini bebas anthrax dan zoonosis. Makanya, untuk hewan di sini sebelum masuk ke Banten kita anjurkan untuk melaksanakan cek apakah terbebas penyakit menular tersebut,” katanya.

Ari menambahkan, pihaknya juga mempunyai laboratorium pengujian dan pelayanan veteriner di Drangong.

“Di lapak ini ada 26 kerbau yang datang dari luar daerah dan dicek negatif semua. Kalau negatif, baru diperbolehkan diperjualbelikan,” ungkapnya.

Ari menjelaskan, pemantauan hari ini meliputi pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan klinis. Pemeriksaan dokumen menyangkut apakah ada surat keterangan kesehatan hewan, terutama yang dari luar daerah. Kemudian pemeriksaan klinis termasuk, umur, kesehatan, dan kalau ada gejala yang kurang begitu sehat pihaknya menganjurkan untuk dipisahkan dan diisolasi.

“Yang sering kita temukan penyakitnya masih bisa diatasi, yaitu orf, kudis, dan flu. Rata-rata itu karena perjalanan saja dan penyesuaian lapangan, kayak rumput di tempat asal berbeda dengan di sini, maka perlu penyesuaian lagi sehingga kondisi tubuhnya agak menurun sedikit. Tapi seiring berjalannya waktu akan sehat kembali,” katanya. (Hendra)

Wartawan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *