Setelah Viral, Kasus Dugaan Penganiayaan Mantan Pacar di Tigaraksa Berakhir Damai

  • Whatsapp
Cewek Digebukin Mantan di Tigaraksa, Penganiayaan Mantan Pacar, Penganiayaan Mantan Pacar Berakhir Damai, Cowok Gebukin Mantan, Mantan Digebukin Cowoknya, Mantan Pacar dan Korban Berdamai, Banten Terbaru, Berita Banten Hari Ini, Berita Kabupaten Tangerang, Berita Kabupaten Tangerang Terbaru, Berita Kabupaten Tangerang Hari Ini: Setelah Viral, Kasus Dugaan Penganiayaan Mantan Pacar di Tigaraksa Berakhir Damai
Ilustrasi penganiayaan (Sumber: Faktajabar.co.id)

KABUPATEN TANGERANG (SBN) — Kasus dugaan penganiayaan atas korban NA (21), warga Kampung Pabuaran, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, berakhir damai. Sebelumnya, keluarga korban mengancam akan melakukan aksi unjuk rasa di Mapolresta Tangerang sebagai bentuk kekesalan atas kinerja polisi yang tak kunjung menangkap terduga pelaku.

Baca juga:

Read More

Pengacara terduga pelaku juga dikabarkan beberapa kali telah mengunjungi kediaman NA untuk menempuh jalur damai. Setelah kasus ini banyak diangkat media (viral) dan polisi hendak mengeksekusi, pihak keluarga korban akhirnya memilih berdamai dengan pihak terduga pelaku.

“Terduga pelaku kabarnya telah meminta maaf dan memberikan biaya pengobatan kepada korban,” ujar Kanit Jantanras, Satreskrim Polresta Tangerang AKP Dedi Riswandi kepada SuaraBantenNews, Kamis, 18 Februari 2021.

Dedi menjelasan, awalnya, pasal yang dituduhkan kepada terduga pelaku adalah pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang masuk ke dalam delik murni. Namun, seiring berjalannya hasil penyidikan, pasal yang dituduhkan berubah menjadi pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

“Keluarga korban telah mencabut laporannya, tapi proses gelar perkara masih terus berlanjut. Namun, keputusan akhir tetap berada di kita (penyidik),” jelasnya.

Saat dimintai tanggapan, Dirut LBH Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Gufroni mengatakan, kasus yang masuk ke dalam delik umum ini, walaupun sudah ada kesepakatan damai, proses masih harus terus berlanjut. Namun, tidak tertutup kemungkinan penyelesaian kasus berdasarkan pendekatan restoration justice, yaitu penegakan hukum secara berkeadilan.

“Tidak semua perkara pidana bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Sepanjang muncul kesepakatan dan diselesaikan secara damai, bisa saja laporan dicabut dan proses hukum bisa dikatakan selesai,” terangnya.

Menurutnya, penganiayaan yang tidak meninggalkan luka berat, misalnya korban tidak cacat permanen dan korban masih bisa berkegiatan sehari-hari serta terduga pelaku memberikan biaya pengobatan kepada korban, proses pidana tersebut bisa dikecualikan. Namun, keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan penyidik dalam melihat tingkat kasus yang ditangani.

“Jika tidak terlalu berat dan kemudian ada tanggung jawab dari terduga pelaku untuk biaya pengobatan dan adanya pertimbangan dari penyidik, prosesnya bisa ditutup dan bisa tidak mencapai gelar perkara,” tandasnya.

Gufroni pun menjelaskan, perubahan pasal yang disangkakan kepada seorang pelaku bisa terjadi berdasarkan proses pengumpulan alat bukti dan pemeriksaan para saksi di lapangan. Pasal yang disangkakan di awal pembuatan laporan sifatnya tidak mutlak. Bahkan, lanjutnya, saat berkas tiba di kejaksaan pun tidak tertutup kemungkinan pasal tersebut juga bisa berubah berdasarkan proses pengembangan perkara.

“Prinsip hukum pidana tidak mesti langsung memenjarakan orang. Hasil musyawarah bisa menutup perkara,” tegasnya.

Ia pun mengungkapkan, berkas orang yang bersangkutan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik dari kepolisian, maka harus memberitahukan kepada kejaksaan. Sebaliknya, jika yang bersangkutan belum ditetapkan sebagai tersangka, polisi tidak berkewajiban untuk menyampaikan kepada kejaksaan. (Restu/Atm)

Wartawan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *