Orang Tua Diimbau Hati-Hati Pilih Sekolah Untuk Anak

  • Whatsapp
JAKARTA, 11/1 - PENERAPAN KURIKULUM 2013. Sejumlah siswa berpose saat berkumpul di lapangan di SD Angkasa 1 Halim Perdanakusumah Jakarta, Jumat (11/1). Untuk tahap awal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk menerapkan kurikulum baru 2013 tingkat sekolah dasar hanya pada 30 persen dari 148 ribu SD yang ada di seluruh Indonesia untuk kelas I dan IV mulai tahun ajaran baru Juli mendatang. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/pd/13.

JAKARTA; SBN — Psikolog Maharani Ardi Putri, mengimbau kalangan orang tua untuk berhati-hati memilih sekolah untuk anaknya, terutama Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak.

“Orang tua harus bisa memilih dengan baik mulai dari basis sekolah tersebut, kurikulum maupun gurunya, agar anak tidak terjerumus ataupun terpapar hal-hal yang negatif,” katanya dikutip dari siaran pers di Jakarta, ditulis Jumat (7/9).

Menurut dia, memilih sekolah untuk anak sebagai hal penting mengingat saat ini tidak sedikit sekolah yang mengajarkan intoleransi, antikebangsaan, serta keagamaan yang ekstrem.

Putri mengatakan orang tua juga harus memerhatikan perilaku dan juga ucapan anaknya, sehingga bisa segera mengambil tindakan ketika menemukan yang tidak sepantasnya.

“Anak-anak usia Playgroup, TK, SD masih punya keterbatasan pola pikir sehingga apa yang dia lihat maka itu yang dia tiru tanpa melalui saringan yang lebih kritis seperti halnya orang dewasa,” katanya.

Jika perilaku atau ucapan anak ternyata keliru, meniru atau berdasarkan apa yang diajarkan gurunya, maka tidak boleh didiamkan.

“Orang tua boleh datang ke sekolah untuk kemudian mendiskusikan itu kepada pendidik yang ada di sekolah. Jangan dibiarkan,” ujar psikolog yang di layar kaca dikenal dengan nama Putri Langka itu.

Ia menyatakan pernah mendengar kasus anak usia lima tahun menolak diajak orang tuanya ke pusat perbelanjaan dengan alasan menurut gurunya pusat perbelanjaan tersebut tempat orang-orang yang agamanya tidak sama dengan agama yang dianutnya.

“Mungkin anak-anak cuma menyampaikan saja tanpa tahu apa maksudnya. Orang tua perlu tahu juga siapa yang menyampaikan, harus dicari sumbernya,” katanya.

Menurut dia, anak-anak adalah investasi bangsa Indonesia pada masa mendatang sehingga disayangkan apabila sejak dini mereka justru terpapar ajaran intolerasi, anti-Pancasila, dan anti-NKRI. (cuy/net)

Wartawan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *