Kegiatan Belajar Daring di Masa Pandemi Menurunkan Kualitas Pendidikan

  • Whatsapp
Kegiatan Belajar Daring, Kegiatan Belajar Online, Kualitas Pendidikan Anak, Pendidikan di Masa Pandemi, Berita Banten, Berita Banten Terbaru, Berita Banten Hari Ini, Berita Cilegon, Berita Cilegon Terbaru, Berita Cilegon Hari Ini: Kegiatan Belajar Daring di Masa Pandemi Menurunkan Kualitas Pendidikan
Faturohman, akademisi Universitas Bina Bangsa, Banten (Foto: Wawan Kurniadi/SuaraBantenNews)

CILEGON (SBN) — Kualitas pendidikan di masa pandemi menurun, utamanya pada tingkat sekolah dasar. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah waktu belajar menjadi tidak efektif dan lebih sedikit dibandingkan dengan waktu bermain. Demikian disampaikan Faturohman, akademisi Universitas Bina Bangsa, Banten, Jumat (5 Maret 2021).

Faturohman mengatakan, merebaknya wabah virus korona berdampak kepada semua hal, termasuk bidang pendidikan. Dengan pembelajaran daring, materi yang disampaikan menuntut orang tua untuk turut terlibat dalam pembelajaran, bahkan dituntut memahami materi yang disampaikan guru untuk diteruskan kepada anak-anaknya. Padahal, para orang tua, terutama seorang Ibu, memiliki tanggung jawab sendiri yang harus diselesaikan.

Read More

“Kondisi seperti itu membuat kualitas pendidikan menjadi menurun. Kehadiran guru jelas dibutuhkan sebagai upaya membantu memberikan pemahaman terhadap muridnya,” ujar Fatur.

Kondisi itu, sambung Fatur, tentu berdampak terhadap kegiatan belajar anak. Belajar daring menurunkan kualitas proses belajar karena mereka terlena dengan waktu bermain yang lebih banyak ketimbang waktu belajar. Tingkat pemahaman mereka (siswa) pun tidak lebih baik dibandingkan dengan belajar tatap muka.

Oleh sebab itu, kata Fatur, para orang tua harus mampu mengantisipasi situasi itu agar kualitas pendidikan anak tidak menurun dengan cara membiasakan belajar pada waktu tertentu dan tetap melakukan komunikasi dengan para guru ihwal materi yang diajarkan.

“Tentu harus dilakukan berulang -ulang agar anak terbiasa dan disiplin untuk membatasi kegiatan bermain, utamanya ketergantungan terhadap gadget,” terangnya.

Ia berharap pihak sekolah lebih kreatif menghadapi situasi ini. Selain belajar lewat daring, pihak sekolah juga harus membuka sekolah tatap muka, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Jika tidak, dimungkinkan generasi yang ada akan tertinggal, baik dari segi pemahaman maupun perkembangan sikap mentalnya,” terangnya.

Perkembangan psikologis anak, sambung Fatur, akan berbeda. Anak-anak akan merasa senang belajar tatap muka jika dibandingkan dengan belajar daring karena pembelajaran daring tidak membuat anak-anak mendapatkan suasana belajar dan bermain di kelas dengan rekan sekelasnya. (Wawan/Atm)

Wartawan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *