Stadion Benteng Tangerang Nasibmu Kini…

  • Whatsapp
PWI-KAB

TANGERANG – Tak ada lagi sorak sorai para Benteng Mania (Suporter Persikota) ataupun Laskar Benteng Viola (Suporter Persita) di Stadion Benteng, Tangerang. Stadion sepak bola yang pernah menjadi kebanggaan warga Tangerang kini kumuh kurang terawat, seakan tinggal menunggu ambruknya saja. Stadion berkapasita 25 ribu penonton dimiliki Pemkab Tangerang. Tapi aset sempat jadi sengketa kepemilikan dengan Pemerintah Kota Tangerang.

Stadion Benteng yang terletak di Jalan TMP Taruna, Kota Tangerang ini, dalam kondisi memprihatinkan karena tak terawat. Tribun penonton stadion pun dipenuhi banyak semak belukar. Stadion yang berdiri pada 11 Januari 1989 merupakan salah satu stadion legendaris sepak bola Indonesia.

Stadion Benteng awalnya kandang dan kebanggaan milik Persita maupun Persikota Tangerang. Kini stadion itu mulai tertutupi alang-alang lebih dari setengah tribune penonton. Coretan di tembok serta bau pesing yang hampir tercium di seluruh sudut stadion, membuat Stadion Benteng kini terlihat mengenaskan.

Dua klub yakni Persita Tangerang dan Persikota Tangerang menjadikan lokasi ini sebagai kandangnya. Kedua tim pun mampu menyedot perhatian warga dengan menampilan permainan – permaian yang ciamik. Kala itu Persita Tangerang teramat perkasa di Stadion Benteng ini. Diarsiteki Benny Dollo, Pendekar Cisadane tersebut kerap kali melibat lawan – lawannya

Klub La Viola ini memang saat itu tidak dipandang sebelah mata. Pasalnya deretan pemain kondang melabeli tim ini. Banyak pesepakbola hebat dan bermain untuk Tim Nasional Indonesia terlahir dan merasakan atmosfer magis stadion ini.

Sebut saja capitano Persita Tangerang Olinga Atangana, sayap lincah Uci Sanusi serta Giman Nurjaman, Mukti Ali Raja, Firman Utina, Ilham Jaya Kesuma, Zaenal Arief. Untuk Persikota Tangerang ada nama Tema Mursadad, Aliyudin, Nova Zainal dan Firmasyah. Sejumlah nama pesepakbola itu pernah menjadi bagian penting dalam sejarah Stadion Benteng saat berkostum Persita Tangerang ataupun Persikota Tangerang

Namun saat ini, hegemoni itu sudah tidak terasa. Terlihat bangunan di antara tribun selatan dan timur yang tak selesai dibangun. Pintu-pintu masuk stadion juga sudah tak terlihat lagi akibat tertutup alang-alang yang tingginya sama dengan tinggi orang dewasa. Ruang ganti pemain pun terlihat tak manusiawi. Besi-besi loket pembelian tiket yang karatan dan penuh coretan. Bangunan kumuh di sekitar stadion, dan pagar pembatas di tribune Timur yang kerap dijadikan jemuran pakaian.

Ironisnya, lapangan tempat atlet berlaga pun sudah jadi tempat kambing merumput. Tidak ada yang berkeberatan karena memang tidak ada lagi pertandingan atau latihan rutin dua kesebelasan.

Fanatisme Laskar Benteng Viola dan Benteng Mania kepada tim kebanggaan juga kerap menyulut kericuhan. Ketika stadion tempat tim yang didukungnya tidak ada, yang tertinggal hanya rasa sesak. Gelora hilang, tinggal kenang-kenangan yang tersisa, berarak di lereng ingatan.

Publik sepakbola Tangerang merasakan hal itu, saat Stadion Benteng markas Persita dan Persikota tak lagi dipakai, kerinduan akan atmosfer mendukung tim kesayangan di rumah sendiri semakin menebal. Ya, stadion yang diresmikan pada 11 Januari 1989 tersebut, mulai tahun 2012 tak lagi bergemuruh. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang melarang sepakbola digelar di kota berslogan Akhlakul Karimah tersebut. Keributan yang kerap saat pertandingan digelar.

Senjakala Stadion Benteng

Setelah larangan dari kepolisian dan fatwa MUI setempat keluar, Stadion Benteng perlahan terabaikan. Juli 2018, kondisi stadion tersebut amat mengkhawatirkan. Meski kadang masih digunakan untuk pertandingan sepakbola oleh warga sekitar, tapi lapangan tidak terurus. Rumput tumbuh subur. Ladang rumput itu sering dimanfaatkan warga untuk memberi makan hewan ternak peliharaannya.

Bangunan stadion makin rapuh, kumuh, dan mungkin sudah siap untuk dirobohkan. Pintu stadion berkarat, halamannya menjadi tempat parkir truk dan angkot. Bau pesing menyengat tercium dari sekitaran tembok. Kesan angker benar-benar tampak kala malam tiba. Angker yang benar-benar angker, bukan karena tim lawan susah dapat poin di sini.

Olga (30) salah seorang pendukung Persita mengenang saat-saat ia membela tim kesayangannya berlaga di Stadion Benteng, terutama waktu Persita berada di masa kejayaan. Meski tak pernah menjuarai kasta tertinggi liga Indonesia, tapi pada tahun 2002 Persita sempat menjadi ancaman bagi tim-tim unggulan.

“Musim 2002, Persita hampir menjadi juara liga. Mula-mula mereka berada di posisi ke-4 klasemen akhir wilayah barat. Di babak 8 besar Persita tampil perkasa dengan menyapu 3 kemenangan beruntun dan menjadi pemuncak grup, menghembalang Petrokimia Putra, Persipura Jayapura, dan Arema Malang di urutan berikutnya,” ucapnya.(Zie)

Wartawan

BANK BANTEN

Related posts

PWI-KAB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *