Oleh: Amran Hidayat
Suarabantennews.com — Kadang tubuh terlihat baik-baik saja. Langkah tetap berjalan. Pekerjaan tetap selesai. Namun di dalam dada, ada ruang yang terasa berat. Yang lelah bukan tubuhmu—tapi hatimu. Ia berjalan jauh tanpa sempat berhenti.
Hari-hari bergerak cepat. Pikiran seperti jalan panjang yang tidak pernah benar-benar sepi. Banyak orang mengejar sesuatu di ujung perjalanan. Namun dalam perjalanan itu, ada hal-hal sederhana yang sering luput dari pandangan: bentuk-bentuk syukur yang sebenarnya sangat dekat.
Syukur tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Ia sering datang seperti cahaya kecil di tepi jalan. Lembut. Tenang. Mudah terlewat ketika hati sedang sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki.
Dalam jalan tasawuf, para pencari kedamaian batin sering berbicara tentang dua keadaan hati: ikhlas dan tawakal. Keduanya tidak lahir dari keramaian. Keduanya tumbuh dalam ruang yang sunyi.
Ikhlas membuat hati melepaskan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendiri. Sementara tawakal membuat langkah terasa lebih ringan karena seseorang percaya bahwa Allah selalu hadir dalam setiap perjalanan hidupnya.
Syukur sering lahir dari dua keadaan itu. Ia seperti napas panjang setelah gelombang besar di laut. Tidak mencolok. Namun memberi ketenangan yang dalam.
Hidup sering terasa seperti perjalanan panjang di sebuah jalan yang sunyi. Kadang ada cahaya. Kadang hanya langkah dan napas yang menemani.
Namun selama hati masih mampu merasakan syukur, jalan itu tidak pernah benar-benar gelap. Di antara langkah yang pelan, Allah tetap menyalakan cahaya kecil yang membimbing perjalanan batin manusia.
Mungkin hari ini tidak semua keinginan terpenuhi. Mungkin ada hal yang belum selesai. Namun selama hati masih mampu berkata pelan, “Alhamdulillah,” perjalanan itu tetap memiliki arah. [SBN]