Daging Kurban dan Luka Sosial Kita

waktu baca 4 menit
Rabu, 27 Mei 2026 11:05 127 Redaksi | Atma

Oleh: Rania Khairunnisa

Suarabantennews.com — Pagi selepas shalat Iduladha selalu punya suasana yang khas. Takbir masih menggema dari masjid-masjid besar dan kecil, anak-anak berlarian membawa kantong plastik, dan jalanan kampung mulai ramai oleh aroma tanah basah bercampur bau rumput dan hewan kurban. Di tengah keramaian itu, ada satu pemandangan yang hampir selalu sama: antrean panjang atau kerumunan warga yang menunggu pembagian daging.

Sebagian membawa kupon lusuh yang disimpan hati-hati sejak semalam. Sebagian lain datang dengan wajah sungkan, seolah lapar adalah sesuatu yang memalukan untuk diperlihatkan.

Kita sering mengira Iduladha adalah tentang sapi, kambing, dan ritual penyembelihan. Padahal, pada hari itu, yang sesungguhnya sedang dipertontonkan adalah wajah sosial kita sendiri.

Dan wajah itu kadang tidak nyaman untuk ditatap terlalu lama.

Hari Raya yang Mengingatkan Siapa yang Jarang Makan Daging

Di banyak rumah, daging hanyalah lauk biasa. Ia hadir di meja makan tanpa seremoni. Tetapi bagi sebagian orang, daging kurban adalah satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk membawa pulang rasa “mewah” ke dapur mereka.

Ada ibu-ibu yang memasaknya dengan sangat hati-hati agar cukup untuk tiga hari. Ada anak kecil yang mendadak lahap makan karena baru kali itu merasakan rendang buatan ibunya. Ada pula orang tua yang diam-diam menyisihkan sebagian kecil untuk tetangga lain yang dianggap lebih membutuhkan.

Kemiskinan sering kali tidak tampil dalam bentuk yang dramatis. Ia bersembunyi di balik senyum sopan, pakaian rapi, dan jawaban singkat: “Masih cukup.”

Iduladha membuka tirai itu sebentar.

Kita akhirnya sadar bahwa di sekitar kita ada orang-orang yang terbiasa hidup dengan menahan keinginan sederhana. Termasuk keinginan untuk makan enak bersama keluarga.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih sunyi: mengapa rasa peduli kita sering baru hidup ketika hari raya datang?

Kurban yang Kadang Berhenti Menjadi Angka

Di era media sosial, ibadah pun perlahan berubah menjadi pertunjukan visual. Foto sapi besar diunggah dengan sudut terbaik. Nama donatur disebut berulang-ulang lewat pengeras suara. Video penyembelihan dipotong dramatis untuk konten pendek yang ramai dibagikan.

Tidak ada yang sepenuhnya salah. Syiar memang penting. Berbagi inspirasi juga baik.

Tetapi ada sesuatu yang terasa hilang ketika ibadah terlalu sibuk dilihat manusia.

Al-Qur’an pernah mengingatkan bahwa “daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” Ayat itu seperti mengetuk pelan kesadaran kita bahwa kurban seharusnya lebih banyak bekerja di dalam hati daripada di depan kamera.

Sebab yang paling sulit dikorbankan sering kali bukan harta, melainkan ego.

Dan ego modern punya banyak wajah: ingin dipuji, ingin terlihat dermawan, ingin dianggap paling peduli.

Barangkali karena itu, semakin ramai sebuah ibadah dipamerkan, semakin penting kita bertanya: masihkah ada ruang sunyi antara manusia dan Tuhannya?

Luka yang Tidak Bisa Sembuh dengan Daging

Ada ironi yang selalu muncul setiap Iduladha. Kita bisa sangat murah hati membagikan beberapa kilogram daging, tetapi tetap abai terhadap luka sosial yang lebih panjang umurnya.

Setelah hari raya selesai, sebagian orang kembali hidup dalam kecemasan yang sama: harga beras naik, pekerjaan tak pasti, biaya sekolah menumpuk, dan rumah kontrakan yang jatuh tempo.

Kurban memang bukan solusi seluruh masalah sosial. Namun ia seharusnya menjadi pengingat bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal dengan langit, melainkan juga tentang cara kita memandang manusia lain di bumi.

Nabi Ibrahim tidak hanya mengajarkan ketaatan. Ia juga mengajarkan keberanian melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi nilai yang lebih besar.

Mungkin hari ini, yang perlu kita sembelih bukan hanya hewan kurban, tetapi juga rasa cuek yang sudah terlalu lama dipelihara.

Tentang Hati yang Perlu Kembali Peka

Iduladha selalu datang membawa pelajaran yang sederhana: ada banyak orang yang hidupnya jauh lebih berat daripada yang terlihat.

Karena itu, hari raya ini sebenarnya bukan hanya tentang berbagi daging. Ia tentang menghidupkan kembali kemampuan kita untuk merasa.

Merasa bahwa kenyang adalah nikmat. Bahwa tetangga yang diam belum tentu baik-baik saja. Bahwa kemiskinan tidak selalu bersuara keras. Dan bahwa ibadah paling indah sering lahir dari hati yang lembut kepada sesama.

Mungkin itulah mengapa takbir terdengar begitu menggetarkan pada pagi Iduladha. Ia bukan hanya panggilan untuk merayakan pengorbanan, tetapi juga ajakan untuk menjadi manusia yang lebih peka.

Sebab dunia ini tidak kekurangan orang kaya.

Dunia hanya terlalu sering kekurangan orang yang benar-benar peduli. [SBN]

LAINNYA