Oleh: J. Abdullah
Suarabantennews.com — Sebelum jalan raya memadat dan kawasan permukiman tumbuh ke berbagai arah, masyarakat Tangerang telah lama mengenal satu jalur yang menghubungkan kehidupan: Sungai Cisadane. Aliran air yang membentang dari wilayah pegunungan hingga pesisir utara ini bukan sekadar bentang alam. Bagi banyak generasi, Cisadane adalah halaman depan rumah, jalur perdagangan, ruang pertemuan budaya, sekaligus saksi perubahan zaman.
Di tepian sungai, orang pernah menambatkan perahu, menjemur hasil panen, menunggu kabar keluarga, hingga membangun pasar kecil yang kemudian berkembang menjadi kawasan permukiman. Dari sana, identitas Tangerang tumbuh perlahan bersama arus air.
Dalam sejarah wilayah Banten dan Tangerang, Cisadane memegang posisi penting sebagai batas, penghubung, sekaligus ruang ekonomi masyarakat. Kawasan di sekitar sungai berkembang menjadi titik aktivitas perdagangan dan permukiman yang terus bertahan hingga masa kolonial. Jejak benteng pertahanan Belanda di kawasan tepian sungai juga meninggalkan pengaruh pada pembentukan identitas wilayah Tangerang.
Masyarakat kemudian mengenal istilah Cina Benteng, yang merujuk pada komunitas Tionghoa peranakan yang berkembang di sekitar kawasan benteng dan tepian Cisadane. Kehadiran mereka membentuk warna budaya yang khas dan terus hidup hingga sekarang.
Cisadane tidak pernah menjadi ruang milik satu kelompok.
Di sepanjang alirannya, masyarakat Betawi Tangerang, komunitas pesisir, petani, pedagang, dan masyarakat Cina Benteng membangun hubungan yang saling memengaruhi. Dari interaksi tersebut lahir tradisi, kuliner, dan perayaan yang memperkaya karakter lokal.
Salah satu jejak paling menarik terlihat dalam tradisi Peh Cun yang berkembang di kawasan Cisadane sejak sekitar abad ke-18. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi Festival Cisadane yang dikenal luas sebagai ruang pertemuan budaya dan perayaan keberagaman masyarakat Tangerang. Atraksi perahu naga, kuliner rakyat, serta kegiatan budaya menjadikan sungai sebagai panggung memori kolektif warga.
Di kawasan seperti Pasar Lama Tangerang, suasana itu masih dapat dirasakan melalui jejak rumah tua, aroma kuliner tradisional, dan percakapan yang bergerak antara bahasa, cerita, dan ingatan.
Bagi masyarakat Kabupaten Tangerang, sungai tidak pernah berdiri sendiri.
Cisadane ikut membentuk pola pertanian, menentukan ritme kehidupan kampung, serta mempertemukan wilayah pesisir dengan kawasan pedalaman. Banyak keluarga tumbuh dengan kebiasaan yang dekat dengan air: menangkap ikan, bertani, berdagang, hingga menjaga hubungan sosial melalui ruang bersama.
Tradisi gotong royong, pasar rakyat, dan budaya makan bersama juga berkembang dalam lingkungan yang terbentuk di sekitar aliran sungai.
Perubahan wilayah Tangerang membawa tantangan baru.
Perkembangan permukiman, industri, dan perubahan pola hidup membuat hubungan masyarakat dengan sungai perlahan bergeser. Namun, Cisadane masih menyimpan fungsi yang lebih besar daripada sekadar aliran air.
Festival budaya, kawasan sejarah, serta gerakan menjaga lingkungan menjadi pengingat bahwa sungai ini tetap memiliki tempat dalam kehidupan modern.
Sungai Cisadane mengajarkan bahwa identitas sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan baru atau pertumbuhan ekonomi. Ada lapisan cerita yang mengalir lebih lama: tentang pertemuan budaya, tentang keluarga yang hidup di tepian air, dan tentang masyarakat yang membentuk dirinya melalui ruang bersama.
Menjaga Cisadane berarti menjaga cara Tangerang mengenali dirinya sendiri. Ketika sungai tetap hidup dalam ingatan dan kehidupan sehari-hari, warisan budaya itu akan terus mengalir kepada generasi berikutnya. [SBN]