Oleh: Arman Saputra
Oleh: Jasmine Wijaya
Suarabantennews.com — Pernahkah kamu membuka ponsel hanya sebentar, lalu tiba-tiba satu jam menghilang? Notifikasi berdatangan. Grup obrolan terus bergerak. Linimasa tak pernah sepi. Kita ingin tetap terhubung, tetapi mengapa kepala terasa penuh? Kita butuh teknologi—tapi juga butuh jarak darinya.
Kita memeriksa kabar teman. Kita mengikuti tren. Kita menyimpan tautan yang belum tentu dibaca. Semua terasa penting. Namun, saat layar padam, ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Apakah kita takut tertinggal? Atau sebenarnya kita hanya takut melewatkan sesuatu yang belum tentu berarti?
Istilah fear of missing out atau FOMO sering muncul dalam percakapan digital. Ia bukan sekadar takut ketinggalan acara. Ia menyelinap pelan, lalu membuat kita terus memeriksa. Ada undangan baru? Ada berita terbaru? Ada sesuatu yang harus kita tahu sekarang?
Kehadiran terasa ramai, tetapi pikiran jarang benar-benar istirahat. Kita hadir di banyak tempat, meski tubuh tetap duduk. Apakah semua informasi perlu kita ikuti? Apakah setiap notifikasi harus dijawab segera? Pertanyaan itu sering muncul, lalu tenggelam lagi oleh bunyi berikutnya.
Di tengah arus itu, muncul istilah lain: joy of missing out atau JOMO. Kedengarannya sederhana. Bahkan mungkin sedikit aneh. Bagaimana mungkin melewatkan sesuatu justru terasa menyenangkan? Namun, pernahkah kamu merasakan lega saat tidak membuka ponsel selama beberapa waktu?
Kita tetap bekerja, tetap berkomunikasi, tetap terkoneksi. Hanya saja, kita memberi jeda kecil. Kita membiarkan beberapa notifikasi lewat. Kita menikmati percakapan tanpa memotongnya untuk memeriksa layar. Apakah dunia runtuh? Ternyata tidak. Yang berubah justru ritme napas kita.
Ada momen ketika kita memilih membaca tanpa gangguan. Ada saat kita berjalan tanpa memotret. Ada waktu kita duduk, diam, dan tidak membandingkan hidup sendiri dengan orang lain. Bukankah itu terasa lebih ringan? JOMO bukan tentang menolak teknologi. Ia hanya mengajak kita bernapas.
Kita tidak perlu memusuhi ponsel. Kita juga tidak perlu menghapus semua aplikasi. Teknologi membantu pekerjaan, mempertemukan kita dengan banyak hal baik. Namun, apakah kita selalu harus merespons setiap detik? Apakah kehadiran digital selalu berarti kedekatan?
Mungkin kita bisa mulai dengan kesadaran sederhana. Kita menggunakan teknologi saat membutuhkannya, lalu meletakkannya kembali. Kita memberi ruang bagi pikiran untuk diam. Kita membiarkan beberapa hal berlalu tanpa rasa bersalah. Dan perlahan, kita menyadari sesuatu: tertinggal tidak selalu buruk.
Kita tetap terhubung, tetapi tidak tenggelam. Kita tetap tahu, tetapi tidak kewalahan. Kita memilih hadir sepenuhnya di tempat kita berada. Bukankah itu yang sebenarnya kita cari selama ini? [SBN]