Kemenbud Gandeng JMSI Perkuat Promosi Kebudayaan Nasional

waktu baca 3 menit
Rabu, 4 Mar 2026 11:32 129 Redaksi | Atma

JAKARTA (Suarabantennews.com) – Upaya memajukan kebudayaan nasional terus digenjot pemerintah dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk organisasi perusahaan pers. Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk merangkul Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) guna memperluas promosi budaya Indonesia di tingkat nasional hingga internasional.

Komitmen itu mengemuka saat Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima audiensi JMSI di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Fadli menyatakan keyakinannya terhadap kredibilitas dan komitmen JMSI sebagai konstituen Dewan Pers dalam menumbuhkembangkan kebudayaan nasional.

Ketua Umum JMSI Teguh Santosa menegaskan kesiapan organisasinya untuk membangun komitmen bersama serta berkolaborasi mengangkat dan mempromosikan kebudayaan Indonesia, baik di dalam negeri maupun di panggung global.

Fadli menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menekankan bahwa media memiliki posisi strategis dalam memperluas apresiasi sekaligus promosi kebudayaan.

“Ini hal yang sangat baik, karena media dapat menjadi sarana apresiasi sekaligus promosi kekayaan budaya kita,” ujar Fadli.

Ia menjelaskan, penguatan kebudayaan memiliki landasan konstitusional yang kokoh. Fadli merujuk Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Menurutnya, kebudayaan sebagai aspek immaterial harus menjadi fondasi sebelum membahas aspek material pembangunan sebagaimana diatur dalam Pasal 33 UUD 1945. Identitas, nilai, dan narasi kebangsaan, katanya, merupakan dasar penting dalam memperkuat kedaulatan bangsa.

Saat ini, Kementerian Kebudayaan tengah menghimpun sekaligus mendigitalisasi cerita rakyat dan mitologi Nusantara. Jumlahnya tidak sedikit.

“Cerita rakyat kita sangat banyak, termasuk mitologi. Ini yang sedang kami himpun dan digitalisasi. Jumlahnya sekitar 7.000,” katanya.

Ribuan cerita tersebut tersebar dari Sabang hingga Papua dan dinilai memiliki potensi besar untuk diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia maupun dunia internasional.

Teguh menambahkan, kemampuan membangun narasi dari mitologi dan cerita rakyat perlu diperkuat agar dapat dibaca dan dipahami secara luas. Dengan jaringan sekitar 900 perusahaan pers daring yang tergabung dalam JMSI, dia meyakini organisasinya dapat berkontribusi dalam promosi budaya secara berkelanjutan.

Selain membahas penguatan narasi budaya, Fadli juga memaparkan sejumlah temuan sejarah yang sedang dikaji pemerintah. Salah satunya terkait titik pendaratan pertama saudagar Belanda Cornelis de Houtman di Banten.

Ia menjelaskan, pergeseran garis pantai akibat sedimentasi menyebabkan posisi daratan saat ini berbeda sekitar satu kilometer dibandingkan peta lama.

Di tingkat internasional, Indonesia juga tengah menanti pengumuman dari UNESCO terkait pengakuan tempe sebagai warisan budaya Indonesia.

“Mungkin akhir tahun ini,” ujar Fadli.

Selain tempe, Kementerian Kebudayaan juga mengajukan sejumlah warisan budaya tak benda lainnya, termasuk kuliner seperti rendang. Pemerintah juga mendorong pendaftaran objek budaya benda selain batik ke UNESCO.

Melalui kolaborasi antara pemerintah dan media, promosi serta penguatan kebudayaan Indonesia diharapkan berjalan lebih sistematis dan berkelanjutan di panggung global.

Pertemuan tersebut ditutup dengan saling tukar buku antara Fadli dan Teguh. Fadli menyerahkan buku The Wonder of Indonesian Wayang tentang koleksi wayang yang dimilikinya, sementara Teguh memberikan buku Reunifikasi Korea: Game Theory yang diangkat dari disertasinya pada program doktoral Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. [SBN]

LAINNYA