Oleh: Jakariah, S.E., M.M., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang Tangerang Selatan
Di tengah euforia ekonomi digital, satu asumsi lama dalam pemasaran mulai goyah: bahwa keterlibatan (engagement) pada akhirnya akan berujung pada loyalitas.
Selama bertahun-tahun, perusahaan berlomba mengumpulkan likes, views, dan followers sebagai indikator kedekatan dengan konsumen. Namun, ketika Generasi Z kelompok yang lahir dan tumbuh bersama internet menjadi kekuatan dominan dalam pasar, pola ini tidak lagi berjalan linier.
Pertanyaannya menjadi relevan: apakah loyalitas benar-benar masih ada, atau hanya berubah bentuk?
Untuk memahami perubahan ini, kita perlu melihat bagaimana Gen Z membangun relasi dengan brand. Berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka tidak dibesarkan dalam keterbatasan pilihan. Sebaliknya, mereka hidup dalam kelimpahan informasi dan alternatif.
Dalam konteks ini, loyalitas berbasis kebiasaan atau keterikatan jangka panjang menjadi kurang relevan. Yang muncul adalah loyalitas yang bersifat situasional mudah terbentuk, tetapi juga mudah berpindah.
Asumsi lama dalam pemasaran menyatakan bahwa semakin tinggi engagement, semakin besar kemungkinan konsumen menjadi loyal. Namun, pada Gen Z, engagement sering kali bersifat superfisial. Mereka bisa menyukai, mengomentari, atau bahkan membagikan konten tanpa memiliki komitmen apa pun terhadap brand tersebut.
Interaksi digital tidak selalu mencerminkan kedekatan emosional, melainkan sering kali hanya respons spontan terhadap konten yang menarik atau relevan pada saat itu.
Di sinilah letak paradoksnya. Di satu sisi, brand memiliki lebih banyak data dan alat untuk menjangkau konsumen dibandingkan sebelumnya. Di sisi lain, konsumen khususnya Gen Z memiliki kontrol lebih besar untuk menyaring, mengabaikan, bahkan menolak pesan pemasaran. Mereka tidak hanya menjadi target, tetapi juga kurator atas pengalaman digital mereka sendiri.
Peran influencer, yang sempat dianggap sebagai jembatan antara brand dan konsumen, juga mulai mengalami pergeseran. Awalnya, influencer dipandang mampu membangun kepercayaan melalui kedekatan personal dengan audiens.
Namun, ketika praktik endorsement menjadi terlalu masif dan sering kali tidak autentik, muncul apa yang bisa disebut sebagai “kelelahan influencer” (influencer fatigue). Gen Z semakin kritis dalam membedakan mana rekomendasi yang tulus dan mana yang sekadar transaksi komersial.
Hal ini menantang asumsi bahwa visibilitas otomatis menghasilkan kepercayaan. Justru sebaliknya, eksposur yang berlebihan tanpa nilai yang jelas dapat menurunkan kredibilitas. Dalam banyak kasus, micro-influencer atau bahkan komunitas kecil dengan nilai yang kuat justru lebih efektif dibandingkan figur besar dengan jutaan pengikut.
Jika loyalitas dalam bentuk tradisional melemah, apa yang menggantikannya Jawabannya terletak pada pergeseran dari “loyalitas terhadap brand” menjadi “loyalitas terhadap nilai”.
Gen Z cenderung mendukung brand yang selaras dengan identitas, prinsip, dan aspirasi mereka. Isu-isu seperti keberlanjutan, inklusivitas, dan transparansi bukan lagi sekadar diferensiasi, tetapi menjadi prasyarat.
Namun, pendekatan berbasis nilai ini juga memiliki tantangan. Konsumen Gen Z tidak hanya menuntut pernyataan, tetapi juga konsistensi. Mereka cepat mengapresiasi, tetapi juga cepat mengkritik. Dalam era di mana informasi menyebar dengan cepat, inkonsistensi kecil dapat berkembang menjadi krisis reputasi yang besar.
Alternatif lain yang mulai muncul adalah pergeseran dari hubungan transaksional menjadi hubungan berbasis komunitas. Brand yang berhasil bukan hanya yang menjual produk, tetapi yang mampu menciptakan ruang interaksi dan rasa memiliki. Dalam konteks ini, konsumen tidak lagi diposisikan sebagai pembeli, melainkan sebagai bagian dari ekosistem nilai bersama.
Meski demikian, penting untuk tidak terjebak pada generalisasi berlebihan. Tidak semua Gen Z memiliki perilaku yang sama, dan tidak semua kategori produk mengalami tingkat volatilitas loyalitas yang setara.
Produk dengan keterlibatan tinggi (high involvement) seperti teknologi atau pendidikan mungkin masih memiliki tingkat loyalitas yang relatif stabil dibandingkan produk dengan keterlibatan rendah.
Selain itu, faktor harga, kualitas, dan kemudahan akses tetap memainkan peran penting. Dalam banyak kasus, keputusan pembelian tetap rasional, meskipun dibalut dalam narasi emosional atau nilai. Artinya, perubahan perilaku ini bukanlah penggantian total, melainkan evolusi dari faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen.
Kesimpulannya, loyalitas tidak sepenuhnya mati, tetapi mengalami redefinisi. Ia tidak lagi bersifat statis dan jangka panjang, melainkan dinamis dan kontekstual. Bagi pelaku bisnis, tantangannya bukan hanya bagaimana menarik perhatian, tetapi bagaimana membangun relevansi yang berkelanjutan di tengah perubahan preferensi yang cepat.
Dalam lanskap ini, keberhasilan pemasaran tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak audiens yang bisa dijangkau, tetapi seberapa dalam hubungan yang bisa dibangun meskipun hubungan itu mungkin tidak berlangsung selamanya. Paradigma baru ini menuntut pendekatan yang lebih adaptif, autentik, dan berorientasi pada nilai.
Ke depan, pertanyaan yang lebih tepat mungkin bukan “bagaimana membuat konsumen loyal?”, melainkan “bagaimana tetap relevan di mata konsumen yang tidak ingin terikat?”.
Di sinilah inti perubahan yang dibawa oleh Gen Z: bukan menghapus loyalitas, tetapi mengubah aturan mainnya secara fundamental.
Bagi brand yang mampu membaca arah ini, perubahan bukanlah ancaman, melainkan peluang. Namun bagi yang tetap bertahan pada asumsi lama, risiko terbesar bukan kehilangan loyalitas, melainkan kehilangan relevansi itu sendiri.