Perundungan Meningkat, Tanggung Jawab Kita Bersama

waktu baca 3 menit
Minggu, 30 Nov 2025 18:18 721 Redaksi | Atma

Oleh: Yani Suryani (Pegiat Literasi)

Banyaknya beredar video yang bertemakan perundungan membuat kita yang melihat merasa miris, sedih dan entah perasaan apalagi yang tergambar. Pelajar yang terkadang masih terlihat imut-imut terlihat begitu sangar dan tak mengenal rasa belas kasih sayang kepada temannya.

Komisi Perlindungan Anak  Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang tahun 2024 ada sekitar 2.057 pengaduan kasus pelanggaran hak anak; termasuk kekerasan fisik, psikis dan cyberbullying. Bahkan masih menurut data KPAI di tahun 2025 menemukan 25 kasus bunuh diri anak akibat perundungan hingga korban mengalami depresi berat. (kumparan news 30/11/2025)

Pendidikan pun tak kalah mencengangkan terkait perundungan, periode Januari – November 2024 terdapat 1.801 pengaduan terakit pemenuhan hak anak; termasuk 31 kasus perundungan di satuan Pendidikan (NUonline 31/12/2024). Penelitian terkait data perundungan bahwa siswa yang pernah mengalami perundungan, 26 % siswa SD, 25 % siswa SMP dan 18,75 siswa SMA.

Beberapa kasus yang baru-baru viral diantaranya  bahwa siswa yang diduga melakukan pemboman di SMAN 72  Jakarta adalah korban perundungan. Ada pula siswa yang sampai harus dirawat karena kerap kali mengalami perundungan.

Jika dunia Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat nyaman bagi semua orang pun tak lepas dari perundungan, bagaimana pula dengan tempat lain? Jika  ditelisik lebih dalam peristiwa yang terkategori perundungan akan jauh lebih besar dari data yang sudah terlapor dan tercatat di KPAI.

Lembaga Pendidikan, sebagai wadah untuk mendidik karakter tidak terlepas dari kasus perundungan. Ini menunjukkan bahwa ada hal yang harus kita renungi bersama, bahwa faktanya di sekolah pun tidak ada jaminan terlepas dari kasus perundungan. Padahal jika kita lihat seorang guru akan sangat hati-hati dalam bersikap dan bertutur karena salah satu tujuan pembelajaran di sekolah adalah agar siswa  menjadi pribadi yang memiliki karakter.

Untuk itu setidaknya ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan agar perundungan ini tidak terus meningkat. Jenis  perundungan yang terjadi saat ini adalah fisik, verbal dan cyberbully. Untuk itu kita seharusnya dalam berututur dan bertindak tidak sampai menimbulkan ketersinggungan dan kemarahan. Kadang perundungan  itu diakibatkan dari hal sederhana seperti bercanda.  Saat ngobrol, jam istirahat dan berkumpul dengan teman kita kadang menganggap kalimat yang diucapkan  dianggap lucu, padahal lawan bicara kita tidak menganggap itu lucu. Biasanya kita ngecengin temen agar suasanya menjadi mencair. Padahal teman yang kita cengin justru merasa tersinggung dan patah hati.

Perangai atau akhlak dalam Islam sangat ditinggikan. Budi pekerti yang telah Allah firmankan dalam Al quran dan dicontohkan dalam Sunah Rosul bisa menjadi bagian pelajaran dan harus kita amalkan. Rosul bersabda dalam hadist bahwa seorang muslim tidak boleh menyakiti muslim lainnya dengan lisan maupun tangan. Dan bukankah apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban kelak.

Mari kita bersinergi untuk bersama menebar kebaikan dan bertekad menghapus perundungan dalam kehidupan kita. Saling menjaga sikap, menasehati dan mengingatkan  dengan cara  yang makruf setidaknya akan menghindari kesalahpahaman dan buruk sangka.

Perundungan saat ini memang sudah merebak di semua kalangan. Jika dulu kita temukan saling ejek terjadi pada anak-anak, sekarang tidak lagi. Ada alarm yang harus kita renungkan bahwa ada ketidakberesan dalam kita membangun karakter pada anak pada awalnya. Pengasuhan, Pendidikan dan budaya social perlu kita benahi bersama.

Saat ini semua kalangan harusa bersinergi. Mengandalkan guru saja tidaklah mungkin.  Sekolah Masyarakat dan pemerintah harus bergerak bersama untuk satu persepsi bahwa jangan menganggap perundungan dari hal kecil seperti verbal, fisik maupun cyberbully bukan sesuatu yang harus ditoleransi. Dalam agama manapun mengejek yang merupakan bagian dari perundungan dan dilarang.

Mengutip Firman Allah dalam surat Al hujurat ayat sebelas Allah melarang kaum beriman saling mengejek. Jadi ada banyak pelanggaran saat perundungan di lakukan yaitu, menyangkut sosial, budaya, terutama agama. Saatnya kita bergerak bersama untuk peka terhadap pelaku perundungan, dan bersinergi untuk mengedukasi kepada Masyarakat bahwa perundungan dalam bentuk apapun itu sangat merugikan. [SBN]

LAINNYA