KAB. TANGERANG (Suarabantennews.com) – Program ketahanan pangan jagung di Desa Bantar Panjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, mulai menunjukkan hasil nyata. Meski ditanam di lahan dengan kondisi ekstrem, jagung di kawasan tersebut berhasil dipanen pada Kamis (8/1/2026).
Panen dilakukan di lahan seluas sekitar 1,5 hektare dengan hasil mencapai 2 hingga 3 ton. Capaian ini menjadi indikator bahwa budidaya jagung tetap dapat berjalan meski dihadapkan pada keterbatasan kondisi tanah dan cuaca.
Direktur PT MSD Corpora Internasional Made Swardika Dwipayana mengatakan, panen ini menjadi bukti bahwa pengelolaan yang tepat mampu menghasilkan produksi di lahan yang tidak ideal.
“Target panen hari ini di luasan 1,5 hektare. Hasilnya sekitar 2 sampai 3 ton,” ujar Made.
Made menjelaskan, lahan jagung di Bantar Panjang yang sebelumnya diresmikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2025 merupakan bekas galian dengan kondisi tanah yang tidak produktif. Karakteristik tanahnya beragam, mulai dari keras, bercampur batu, hingga memiliki kandungan air yang kurang baik.
Selain itu, lapisan tanah atas atau top soil sudah hilang sehingga ketebalan tanah sangat tipis. Kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam proses penanaman.
“Ini menjadi tantangan utama dalam proses tanam,” jelas Made.
Faktor curah hujan yang sangat tinggi dalam beberapa bulan terakhir juga menjadi kendala serius dalam budidaya jagung. Tetapi Made memastikan seluruh tahapan penanaman tetap dilakukan sesuai prosedur teknis.
Dia menjelaskan, proses dimulai dari penyemprotan herbisida, pembajakan lahan, hingga pemupukan intensif yang semuanya dilakukan sesuai ketentuan. Selain itu, pengelola juga memberikan booster nutrisi untuk membantu pertumbuhan tanaman karena minimnya unsur hara di media tanam.
Langkah tersebut dinilai efektif untuk memacu pembentukan buah jagung meski kondisi lahan tidak ideal.
“Booster ini memacu tanaman supaya bisa berbuah. Dan hasilnya bisa dilihat hari ini, jagungnya berbuah,” ujar Made.
Terkait kondisi lahan yang sempat terlihat dipenuhi rumput, Made menjelaskan hal itu merupakan bagian dari strategi teknis pengendalian erosi. Rumput sengaja dibiarkan tumbuh untuk menahan struktur tanah agar tidak mudah tergerus air hujan, mengingat kontur lahan yang miring.
“Kalau dibersihkan total, tanahnya bisa terbawa air hujan. Jadi rumput ini justru berfungsi menahan tanah,” ungkapnya.
Hasil panen jagung pakan tersebut direncanakan akan disalurkan ke Bulog. Apabila tidak seluruhnya terserap, jagung akan didistribusikan ke pabrik pakan ternak di wilayah sekitar. Menurut Made, capaian panen 2 hingga 3 ton pada masa tanam pertama di lahan ekstrem masih tergolong wajar.
Panen jagung di Bantar Panjang juga dilaksanakan bersamaan dengan Panen Raya Nasional yang dipimpin Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo secara terpusat dari Bekasi. Di wilayah Tangerang, kegiatan panen turut dihadiri unsur Forkopimda.
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid menyampaikan, panen tersebut melibatkan masyarakat serta kelompok tani setempat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Ini menjadi kebersamaan kita semua untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Tangerang,” ujar Maesyal.
Sementara itu, Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah menegaskan penanaman jagung dilakukan secara bertahap agar panen dapat berlangsung berkelanjutan.
“Penanaman dilakukan bertahap sehingga panen juga tidak bersamaan,” ujar Indra Waspada.
Dia menegaskan, panen yang dilakukan saat ini bukan menjadi satu-satunya. Panen lanjutan masih dijadwalkan dalam beberapa waktu mendatang dengan estimasi hasil yang lebih besar.
Dengan masih adanya agenda panen lanjutan, program ketahanan pangan jagung di Bantar Panjang dinilai terus berjalan dan menunjukkan perkembangan positif, meski dilaksanakan di lahan dengan tantangan teknis yang tinggi. [SBN]

