Gambar ilustrasi dibuat menggunakan AI. Oleh: Ubay Maulana
Suarabantennews.com — Angin laut dari pesisir utara Banten pernah membawa suasana yang jauh berbeda dari hari ini. Di sekitar pelabuhan kecil, pasar tradisional, dan kampung agraris yang tenang, masyarakat hidup dalam bayang-bayang perang ketika tentara Jepang datang ke Nusantara pada awal 1942.
Suasana berubah cepat. Jalur perdagangan diawasi ketat, hasil panen dipantau, dan banyak pemuda desa dipaksa meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai romusha. Di kawasan Serang hingga Tangerang, kehidupan masyarakat bergerak dalam ritme yang penuh ketakutan, tetapi tetap menyimpan daya tahan yang kuat.
Banten memiliki posisi penting pada masa itu. Wilayah ini menjadi jalur strategis yang menghubungkan Batavia dengan kawasan pesisir barat Pulau Jawa. Sungai Cisadane, jalur kereta, serta pelabuhan kecil di pesisir utara menjadi bagian dari pengawasan militer Jepang selama perang berlangsung.
Kekuasaan Hindia Belanda runtuh setelah Jepang mendarat dan mengambil alih berbagai wilayah di Indonesia pada tahun 1942. Di Banten, perubahan tersebut terasa sangat cepat. Bendera Belanda diturunkan, sementara simbol-simbol Jepang mulai memenuhi kantor pemerintahan dan ruang publik.
Di Tangerang, aktivitas perdagangan di sekitar Pasar Lama tetap berjalan, tetapi suasananya jauh lebih sunyi. Banyak pedagang Cina Benteng hidup dalam tekanan akibat pengawasan militer dan kondisi ekonomi yang tidak stabil. Sementara itu, masyarakat kampung di sekitar Cisadane mulai menghadapi kelangkaan bahan pangan.
Kawasan pertanian di pedalaman Banten juga mengalami tekanan berat. Tentara Jepang mengontrol hasil bumi seperti padi dan singkong untuk kepentingan perang. Banyak keluarga akhirnya mengandalkan tanaman sederhana dan hasil kebun untuk bertahan hidup.
Cerita tentang romusha masih hidup dalam ingatan sebagian keluarga tua di Banten. Banyak laki-laki muda dari desa-desa di Pandeglang, Lebak, dan Tangerang dibawa untuk membangun jalan, rel kereta, hingga fasilitas militer dalam kondisi yang sangat berat.
Di kampung-kampung pesisir, nelayan tetap melaut dengan rasa cemas. Tentara Jepang mengawasi pergerakan perahu dan aktivitas perdagangan laut. Malam hari terasa sunyi karena masyarakat memilih membatasi aktivitas demi menghindari patroli militer.
Meski hidup dalam tekanan, denyut budaya masyarakat Banten tetap bertahan. Azan dari masjid tua masih berkumandang, pengajian kampung terus berlangsung secara sederhana, dan tradisi gotong royong tetap hidup di tengah kesulitan ekonomi.
Banten sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan tradisi religius yang kuat. Ulama dan tokoh pesantren memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Selama masa pendudukan Jepang, banyak tokoh lokal memilih menjaga semangat rakyat melalui pendidikan agama dan solidaritas sosial.
Di beberapa daerah, jawara kampung ikut membantu melindungi masyarakat dari tekanan aparat militer. Mereka menjadi simbol keberanian sekaligus penjaga ketertiban sosial di tengah situasi yang tidak menentu.
Kawasan tua seperti Banten Lama tetap menjadi pusat spiritual masyarakat. Menara Banten dan Masjid Agung Banten menyimpan suasana historis yang mengingatkan masyarakat pada kekuatan identitas budaya dan agama yang telah tumbuh jauh sebelum masa perang.
Pendudukan Jepang meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan sosial masyarakat Banten. Banyak keluarga mewariskan kisah tentang kelaparan, kerja paksa, hingga perjuangan bertahan hidup kepada generasi berikutnya.
Beberapa jalur infrastruktur yang dibangun pada masa itu masih menjadi bagian dari kehidupan modern saat ini. Namun, memori yang paling kuat justru hadir melalui cerita lisan di kampung-kampung tua, pasar tradisional, dan kawasan pesisir.
Di Tangerang, suasana Pasar Lama dan perkampungan Cina Benteng masih menyimpan lapisan sejarah panjang tentang perubahan sosial yang terjadi sejak masa kolonial hingga pendudukan Jepang.
Sejarah tidak selalu hadir melalui bangunan besar atau arsip resmi. Banyak memori penting hidup dalam cerita keluarga, tradisi kampung, dan jejak kecil yang tersembunyi di sudut-sudut Banten.
Mengenang masa pendudukan Jepang bukan sekadar melihat luka masa lalu. Kisah tersebut membantu masyarakat memahami daya tahan budaya, solidaritas sosial, dan keberanian rakyat kecil yang pernah menjaga kehidupan di tengah situasi sulit.
Banten tumbuh sebagai wilayah dengan identitas yang kuat karena masyarakatnya terus menjaga ingatan kolektif tentang perjalanan sejarah mereka. Dari pesisir utara hingga kampung agraris di pedalaman, cerita itu masih hidup dan layak dikenang oleh generasi hari ini. [SBN]