Syarif Hidayatullah dan Lahirnya Poros Islam di Banten

waktu baca 2 menit
Kamis, 12 Feb 2026 10:21 176 Redaksi | Atma

Oleh: J. Abdullah

Suarabantennews.com — Pada paruh akhir abad ke-15, Banten berdiri sebagai wilayah pesisir yang ramai oleh lalu lintas dagang, namun masih berada dalam pengaruh Kerajaan Pajajaran, dengan struktur kekuasaan bercorak Hindu-Buddha dan hubungan politik yang berpusat di pedalaman Jawa Barat.

Kedudukan Banten saat itu sangat strategis karena menghadap langsung ke Selat Sunda, jalur penting perdagangan antarpulau dan antarbenua, sehingga para pedagang dari Arab, Gujarat, dan Nusantara bagian timur singgah, membawa komoditas sekaligus gagasan keagamaan yang perlahan membentuk kesadaran baru.

Dalam suasana inilah Islam mulai dikenal sebagai kekuatan sosial yang tumbuh tenang melalui jaringan dagang dan peran para ulama, tanpa segera mengguncang tatanan lama, tetapi cukup kuat untuk menarik simpati kelompok pesisir yang lebih terbuka terhadap perubahan.

Jalan Sejarah Syarif Hidayatullah

Ketika Syarif Hidayatullah, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, memperluas pengaruhnya dari Cirebon pada awal abad ke-16, Banten menjadi wilayah yang memiliki arti strategis, baik secara politik maupun keagamaan, terutama dalam konteks persaingan dengan Pajajaran.

Melalui hubungan erat dengan Kesultanan Demak, Syarif Hidayatullah mendorong upaya pelepasan Banten dari kekuasaan lama, hingga penaklukan Banten Girang terjadi dan pusat kekuasaan dipindahkan ke pesisir, sebuah langkah yang menandai kelahiran tatanan politik baru bercorak Islam.

Peristiwa ini tidak berlangsung sebagai ledakan konflik semata, melainkan sebagai rangkaian pergeseran kekuasaan yang terukur, di mana legitimasi keagamaan, jaringan dagang, dan kekuatan militer saling menopang dalam membangun fondasi Kesultanan Banten.

Makna Lahirnya Poros Islam

Pergeseran pusat kekuasaan dari pedalaman ke pesisir membawa dampak besar, karena Banten tumbuh sebagai kerajaan maritim yang berorientasi keluar, dengan Islam menjadi perekat sosial sekaligus sumber legitimasi politik bagi penguasa dan elite baru.

Dalam konteks Nusantara, Banten kemudian menempati posisi penting sebagai simpul penyebaran Islam di wilayah barat Jawa, sekaligus mitra dagang yang diperhitungkan oleh kekuatan regional, sehingga perubahan ini melampaui batas lokal dan memengaruhi peta kekuasaan lebih luas.

Jejak yang Masih Terasa

Hingga kini, jejak Syarif Hidayatullah tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Banten, hadir melalui tradisi keagamaan, situs sejarah, dan cara wilayah ini memaknai identitasnya sebagai ruang yang dibentuk oleh pertemuan dagang, dakwah, dan kekuasaan.

Sejarah tersebut mengingatkan bahwa Banten tidak lahir dari satu peristiwa tunggal, melainkan dari proses panjang yang menyatukan perubahan sosial dan keagamaan, sebuah warisan yang terus membentuk cara Banten berdiri dan dipahami dalam narasi Indonesia. [SBN]

LAINNYA