Gambar ilustrasi dibuat menggunakan AI. Oleh: Abu Hidzriyan Al-Bantani
Suarabantennews.com — Ada saat ketika seseorang menatap layar ponsel terlalu lama, lalu hatinya terasa berat tanpa alasan yang jelas. Gambar demi gambar lewat seperti ombak kecil. Kehidupan orang lain tampak terang. Sementara batin sendiri terasa redup.
Tanpa disadari, hati mulai berjalan di jalan yang sempit. Ia membandingkan, menilai, lalu merasa tertinggal. Yang lelah bukan tubuhmu—tapi hatimu. Ia seperti laut yang kehilangan angin tenang.
Media sosial sering menghadirkan wajah dunia yang berkilau. Namun hati manusia tidak selalu siap melihat terlalu banyak cahaya sekaligus. Ketika hati tidak siap, iri dan dengki muncul seperti kabut tipis di pagi hari.
Dalam tradisi batin para pencari kedamaian, hati yang tenang tumbuh dari dua benih sederhana: ikhlas dan tawakal. Keduanya seperti jalan sunyi yang mengarah pada laut yang luas.
Ikhlas mengajarkan bahwa setiap manusia berjalan di jalannya sendiri. Ada yang menempuh jalan terang lebih awal. Ada yang melangkah pelan melalui lembah panjang. Allah menata perjalanan itu dengan ukuran yang berbeda.
Tawakal memberi napas yang panjang bagi hati. Ia mengingatkan bahwa rezeki, waktu, dan keberhasilan tidak bergerak secara acak. Semuanya berjalan dalam susunan yang rapi, meski manusia sering tidak melihat peta besarnya.
Ketika hati mengingat hal itu, iri perlahan kehilangan tempatnya.
Ada beberapa jalan kecil yang sering dilupakan, padahal jalan itu cukup terang bagi siapa pun yang ingin kembali kepada ketenangan.
Hati manusia seperti air yang jernih. Ia menjadi keruh ketika terlalu sering diaduk oleh kegelisahan dan perbandingan.
Sesekali, seseorang perlu menyingkir dari riuh layar. Duduk dalam diam. Mendengarkan napas sendiri. Lalu menyadari bahwa Allah selalu dekat, bahkan ketika dunia terasa terlalu ramai.
Di tempat sunyi itulah hati menemukan kembali jalannya. Sebab ketenangan tidak datang dari melihat kehidupan orang lain, melainkan dari merasakan kehadiran Allah dalam hidup sendiri. [SBN]