7 Kebiasaan Scrolling yang Diam-Diam Menguras Energi Mental

waktu baca 2 menit
Sabtu, 21 Feb 2026 09:30 137 Redaksi | Atma

Oleh: Arman Saputra

Suarabantennews.com — Pernah merasa capek padahal tidak melakukan apa-apa yang berat? Layar ponsel menyala sejak pagi, notifikasi datang seperti napas kedua, dan jari bergerak otomatis tanpa benar-benar kita sadari. Kita bilang hanya sebentar, tetapi waktu mengalir begitu saja.

Kita memang butuh teknologi. Kita bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan mencari hiburan darinya. Namun, mengapa setelah scrolling panjang, hati terasa penuh dan kepala seperti tak punya ruang? Aneh, ya. Dekat dengan banyak hal, tetapi terasa jauh dari diri sendiri.

Kelelahan yang Tak Kita Sadari Namanya

Mungkin ini yang bisa kita sebut kelelahan digital. Bukan sakit fisik, melainkan pikiran yang terus siaga. Kita membuka layar begitu bangun tidur. Kita mengisi antrean, jeda makan, bahkan lampu merah dengan scrolling. Seolah sunyi harus segera diisi.

Lalu kita melihat hidup orang lain yang tampak rapi dan bercahaya. Tanpa sadar, kita membandingkan. Kita membaca berita bertubi-tubi, lalu merasa cemas. Kita mengikuti terlalu banyak akun, menyimak terlalu banyak cerita, dan membiarkan komentar panjang mengaduk emosi.

Malam tiba, tetapi jari masih bergerak. Kita menyebutnya doomscrolling. Kita tahu tubuh ingin istirahat, tetapi mata terus mencari sesuatu. Apa sebenarnya yang kita cari? Informasi? Hiburan? Atau sekadar pelarian dari pikiran sendiri?

Semua kebiasaan itu wajar. Kita tidak salah. Platform memang dirancang agar kita betah. Namun energi mental kita tetap terbatas. Jika setiap hari kita mengurasnya sedikit demi sedikit, bukankah wajar bila akhirnya terasa berat?

Jarak Kecil yang Mengembalikan Napas

Kita tidak perlu memusuhi ponsel. Kita juga tidak harus melakukan digital detox ekstrem. Mungkin yang kita perlukan hanya jarak kecil. Misalnya, menunda membuka layar lima belas menit setelah bangun. Memberi pagi ruang untuk napas dan cahaya asli.

Kita bisa memilih satu waktu tanpa notifikasi. Atau mengurangi akun yang tidak lagi memberi makna. Bukan karena kita anti informasi, tetapi karena kita ingin pikiran punya ruang kosong.

Bagaimana rasanya duduk tanpa menggenggam apa pun selama beberapa menit? Canggung, mungkin. Namun dari jeda itu, kita sering menemukan kembali ritme yang lebih tenang.

Menggunakan dengan Sadar, Bukan Terseret

Teknologi membantu kita tetap terhubung. Kita tidak perlu menjauhinya sepenuhnya. Namun kita juga berhak menentukan batas. Kita yang memegang layar, bukan sebaliknya.

Sesekali, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya membuka ini karena perlu, atau karena refleks? Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi rem kecil yang menyelamatkan energi.

Kita butuh teknologi—tetapi kita juga butuh jarak darinya. Di antara notifikasi dan cahaya layar, ada diri kita yang ingin didengar. Mungkin, hari ini, kita bisa mulai mendengarnya pelan-pelan. [SBN]

LAINNYA