sungai cisadane photo : istimewa KABUPATEN TANGERANG (Suarabantennews.com) – Mayoritas wilayah di Kabupaten Tangerang saat ini masuk kategori krisis air. Data tersebut tercantum dalam RPJMD Kabupaten Tangerang Tahun 2025-2029 yang menyebut sekitar 83 persen wilayah mengalami kondisi tersebut.
Kawasan yang paling terdampak berada di bagian utara dan barat Kabupaten Tangerang.
Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, menjelaskan bahwa istilah krisis air bukan berarti masyarakat kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, pasokan yang digunakan masih didominasi air tanah dari sumur bor, bukan layanan air bersih melalui jaringan perpipaan.
Menurutnya, sistem perpipaan merupakan bentuk layanan air yang ideal karena lebih berkelanjutan dibanding pemanfaatan air tanah secara terus-menerus.
“Makanya kita bilang sebenarnya kita sedang mengalami krisis air gitu, krisis air itu mengacunya kepada sebuah kondisi ideal yang sebenarnya harus kita ciptakan gitu. Kondisi idealnya apa? Ya kondisi idealnya semua pasokan air untuk rumah tangga harus melalui perpipaan,” ujar Erwin, Kamis (11/6/2026).
Saat ini, layanan air perpipaan di Kabupaten Tangerang masih mengandalkan pasokan dari Sungai Cisadane. Namun, sumber air tersebut sudah mencapai batas pemanfaatannya karena harus dibagi dengan sejumlah daerah lain di wilayah Jabodetabek.
“Kita sudah tidak diperbolehkan untuk mengambil air baku lagi dari Cisadane. Karena neraca airnya terbatas. Kita mengajukan SIPA (Surat Izin Pengambilan Air) tambahan, tapi kita tidak diberikan izin tersebut. kalau diberikan SIPA-nya kepada kabupaten/kota, ya mungkin kedepannya enggak akan mencukupi,” katanya.
Ia menjelaskan, pasokan dari Sungai Cisadane juga digunakan oleh Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, Tangerang Selatan, Kota Tangerang, serta Kabupaten Tangerang sehingga ketersediaannya semakin terbatas.
Karena itu, Pemkab Tangerang terus mencari sumber air baku alternatif guna mendukung perluasan layanan air bersih perpipaan.
Meski memiliki empat sungai besar, yakni Cisadane, Cimanceuri, Cirarab, dan Cidurian, tidak semuanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku.
“Di kita kan ada empat sungai besar; Cisadane, Cimanceuri, Cirarab, dan Cidurian. Cidurian nggak bisa untuk air baku karena memang fokusnya ke irigasi, Kalau Cirarab kan karena polutan juga, Itu kondisinya hitam kayak gitu gimana mau diolah jadi air baku, Cimanceuri itu neraca airnya sangat terbatas,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Tangerang menaruh harapan pada proyek Waduk Karian yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Selain itu, pemerintah juga masih mengkaji pembangunan waduk lepas pantai atau Coastal Reservoir di kawasan muara Sungai Cisadane.
“Kalau untuk Waduk Lepas Pantai masih dalam tahap kajian, kita berharap betul kepada suplai dari Karian Dam, dari Lebak. Mudah-mudahan sih proyeknya segera jalan nih, kalau misalkan kita dapat suplai air dari Karian Dam, dalam tempo 5 tahun atau 10 tahun ke depan semua rumah tangga kita mendapatkan suplai air bersih melalui perpipaan,” tuturnya.