Agar Tak Tergilas Zaman: Belajar, Beradaptasi, dan Memahami Diri di Era AI

waktu baca 3 menit
Rabu, 23 Sep 2026 17:50 8 Reporter | Ferdianherss

Bedah Buku 21 Lessons for the 21st Century: Mengapa manusia harus terus belajar agar tetap relevan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat

SuaraBantenNews.com – Dunia sedang berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi kecerdasan buatan (AI), big data, bioteknologi, dan otomatisasi bukan hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga berpotensi mengubah ekonomi, politik, kebebasan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri. Pertanyaannya kemudian: jika mesin semakin cerdas, apa yang harus dilakukan manusia agar tetap relevan?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu benang merah dalam bedah buku 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari yang diselenggarakan oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) bersama Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC), Sabtu, 19 September 2026, di Lapangan IPPC, Cengkok, Sentul, Balaraja, Tangerang.

Harari mengingatkan bahwa tantangan terbesar di masa depan bukan semata-mata kehilangan pekerjaan. Revolusi teknologi berpotensi mengotomatisasi berbagai jenis pekerjaan dan membuat sebagian manusia kehilangan peran ekonomi maupun sosial. Persoalannya bukan lagi sekadar apakah manusia akan dieksploitasi, tetapi apakah sebagian manusia akan menjadi tidak lagi relevan (irrelevant) bagi sistem ekonomi.

Di tengah perubahan tersebut, manusia membutuhkan kemampuan yang tidak mudah digantikan oleh mesin yaitu kemampuan berpikir kritis, membedakan fakta dan informasi menyesatkan, memahami keterbatasan pengetahuan, beradaptasi, belajar sepanjang hayat, serta memahami pikiran dan dirinya sendiri.

Pendidikan Tidak Boleh Berhenti pada Hafalan

Perubahan teknologi yang begitu cepat juga menuntut perubahan dalam pendidikan. Di tengah banjir informasi, persoalan utama bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi. Informasi tersedia hampir tanpa batas. Tantangannya adalah bagaimana memilih informasi yang penting, membedakan fakta dari informasi yang menyesatkan, serta menghubungkan berbagai informasi untuk memahami dunia secara utuh.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan siswa untuk menghafal pengetahuan yang dibutuhkan hari ini. Pendidikan harus membantu mereka memahami, menganalisis, dan mensintesis informasi, sekaligus membangun kemampuan untuk terus belajar ketika dunia dan kebutuhan berubah.

Menurut Ade Irawan yang menjadi pembedah buku, semakin cepat perubahan terjadi, semakin penting manusia memiliki kemampuan untuk terus belajar (lifelong learning), memiliki fleksibilitas mental, mampu beradaptasi, dan siap memulai kembali ketika keadaan berubah. Mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch tersebut menegaskan  bahwa pendidikan masa depan tidak seharusnya hanya mempersiapkan anak menghadapi dunia yang sudah kita kenal. “Pendidikan di masa depan bukan tentang mempersiapkan anak menghadapi dunia yang kita kenal, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang belum kita ketahui.”

Hal ini penting terutama bagi generasi muda. Mereka akan memasuki dunia kerja dan kehidupan yang bentuknya mungkin belum sepenuhnya kita bayangkan. Pekerjaan yang hari ini dianggap penting bisa berubah, teknologi baru bisa muncul, dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat dapat bergeser dengan cepat. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar mungkin menjadi keterampilan yang paling penting untuk dipelajari.

Kegiatan bedah buku dipandu oleh Alin Febrian, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), dan dihadiri Ketua IPPC Ilham Roza, Ketua RT Moch. Sidik, tokoh agama Ubaidilah MD, tokoh pendidikan Saripudin Zuhri, mahasiswa, guru, pelajar, serta pemuda Sentul, Balaraja. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda rutin dua mingguan untuk menumbuhkan minat literasi di Tangerang, sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara TBM Cengkok Cerdas Mandiri dan IPPC. (*)

Reporter | Ferdianherss

LAINNYA