Akhlak Seorang Muslim Saat Berkendara: Ketika Jalan Raya Menjadi Ladang Pahala

waktu baca 6 menit
Jumat, 28 Nov 2025 08:41 315 Redaksi | Atma

Oleh Abu Hidzriyan Al-Bantany

Suarabantennews.com — Pada Februari 2025, jagat berita Indonesia sempat heboh oleh kecelakaan di Tambun Selatan yang menewaskan 3 orang akibat motor “cengtri” (bonceng tiga) melawan arah. Peristiwa seperti ini tidak hanya membuat jalanan kacau, tetapi juga menunjukkan bagaimana kurangnya adab bisa membawa bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Saat membaca berita itu, saya langsung terpikir: di negeri dengan mayoritas muslim ini, sejauh mana nilai-nilai Islam mewarnai cara orang berlalu lintas?

Berkendara sebagai Cermin Akhlak

Mungkin Anda seperti saya, melaju di antara ribuan kendaraan lain setiap hari. Kita melaju di jalan yang sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, karakter, dan tujuan. Jalan raya sebenarnya bukan sekadar ruang bergerak, tetapi panggung tempat akhlak kita terlihat jelas. Kita bisa melihat siapa yang sabar, siapa yang emosional, siapa yang cuek terhadap keselamatannya sendiri dan keselamatan orang lain.

Perjalanan yang mestinya biasa saja sering berubah menjadi ujian kesabaran. Anda mungkin pernah disalip tanpa lampu sein, melihat orang belok kanan padahal sein kiri yang menyala, atau mendadak dihadang motor yang melawan arus. Situasi seperti itu biasanya memicu emosi, tetapi di sinilah adab berkendara punya peran besar.

Ketertiban yang Berawal dari Hati

Ketertiban tidak lahir dari ketakutan terhadap tilang dari polisi yang sengaja mengintai mencari kesalahan. Ia tumbuh dari hati yang ingin berbuat baik dengan tertib berkendara dan menjaga keselamatan. Islam mengajarkan kita untuk menahan amarah, menghargai hak orang lain, dan menjauhi tindakan yang membahayakan. Di jalan raya, sangat terlihat apakah seseorang mematuhi aajaran itu atau tidak.

Di jalan raya, sebenarnya kita bisa mempraktikkan adab sederhana: tidak ngebut, berhenti sebelum garis pembatas di lampu merah, memberi ruang untuk pejalan kaki, dan tidak membunyikan klakson ketika mengantre di lalu lintas padat. Hal kecil seperti itu akan membuat suasana jalan lebih tenang sekaligus memberi rasa aman bagi orang lain.

Jalan Raya sebagai Ladang Pahala

Banyak orang mengira pahala hanya datang dari ibadah formal. Padahal, jalan raya adalah ladang pahala yang luas, sepanjang kita mau hadir dengan akhlak baik. Kita memberi kesempatan kendaraan lain masuk jalur? Itu sedekah kecil. Kita menahan emosi ketika hampir terserempet? Itu kemenangan diri yang bernilai pahala. Kita memilih mematuhi lampu merah meskipun jalan sedang sepi? Itu sebuah kepatuhan yang dicatat malaikat.

Dalam Islam, setiap tindakan baik—meskipun tampak remeh—membawa nilai di sisi Allah. Mengurangi kecepatan saat melewati sekolah, tidak mengambil hak jalan orang lain, sampai memastikan motor tidak bising agar tak mengganggu orang sekitar, semuanya adalah cara kita menebar kebaikan tanpa harus mengucapkan apa pun.

Bayangkan jika semua orang memahami kegiatan berkendara sebagai ibadah. Jalan raya akan terasa jauh lebih aman, dan hati kita pun lebih tenang.

Jangan Jadikan Kekacauan Orang Lain sebagai Alasan Menurunkan Akhlakmu

Salah satu alasan klasik yang sering muncul adalah: “Pengendara lain juga tidak tertib, jadi wajar saja kalau saya pun begitu.” Ini jebakan batin yang halus, tetapi berbahaya.

Islam mengajarkan bahwa standar kebaikan tidak boleh mengacu pada kesalahan orang lain. Jika orang lain melanggar, itu tidak mengurangi kewajiban kita untuk tetap taat. Kalau orang lain tidak salat, bukan berarti kita juga boleh tidak salat, bukan? Kita bertanggung jawab untuk menertibkan perilaku kita sendiri, bukan perilaku orang lain.

Bayangkan jika semua orang mengambil alasan yang sama. Jalan raya akan berubah menjadi wilayah tanpa aturan, penuh risiko, dan jauh dari rasa aman. Kita tidak perlu membalas pelanggaran dengan pelanggaran. Yakinlah, perilaku baik kita tidak akan sia-sia. Itu justru menjadi tanda bahwa adab bisa tetap hidup meski lingkungan berantakan.

Dalam hidup, kita sering diajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari satu orang. Di jalan pun sama: kita bisa menjadi contoh ketertiban di tengah kekacauan berlalu lintas.

Menjadi Pengendara yang Bijak

Setiap kali saya memutar kunci kendaraan, saya berusaha mengingatkan diri bahwa keselamatan itu amanah. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga yang menunggu di rumah dan orang lainnya. Dalam Islam, niat baik sebelum berkendara saja sudah menghadirkan keberkahan.

Kita bisa mulai dengan memastikan bahwa kendaraan kita layak jalan, selalu menggunakan helm, dan menyalip hanya ketika benar-benar aman—dan jangan lupa memberi tanda dengan lampu sein. Tidak perlu tergesa-gesa, karena waktu yang hilang beberapa menit tidak sebanding dengan risiko kecelakaan yang bisa muncul kapan saja.

Belajar dari Kasus Nyata di Indonesia

Di berbagai penjuru Indonesia, ada banyak kisah pilu akibat pengendara yang abai aturan, dengan konsekuensi berat: nyawa melayang, keluarga berduka, dan pelajaran pahit bagi keselamatan publik. Kita mungkin sudah sering melihat berita kecelakaan di televisi atau media sosial, tetapi beberapa kasus pada 2024–2025 benar-benar menggambarkan betapa fatalnya kelalaian di jalan raya.

Salah satunya terjadi pada 23 Desember 2024 di Tol Pandaan–Malang. Sebuah bus rombongan sekolah bertabrakan dengan truk tronton, menewaskan 4 orang dan membuat puluhan lainnya luka-luka. Kejadiannya begitu cepat, dan para saksi mengatakan bus tampak melaju tidak stabil sebelum benturan terjadi.

Beberapa bulan sebelumnya, 4 September 2024, sebuah kecelakaan beruntun mengguncang kawasan Plumpang Semper, Jakarta Utara. Lima orang meninggal dunia setelah sebuah truk besar hilang kendali dan menyeret beberapa kendaraan sekaligus. Jalanan yang padat dan perilaku ugal-ugalan kembali menjadi kombinasi yang mematikan.

Saat arus mudik Idulfitri 2025, keadaan juga tidak lebih baik. Pada hari H, data Operasi Ketupat mencatat 22 orang tewas dalam 228 kecelakaan yang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam di berbagai daerah di Indonesia. Tingginya mobilitas dan pengabaian aturan lalu lintas membuat angka korban jiwa melonjak drastis.

Kisah lain yang tidak kalah memilukan terjadi pada 6 Mei 2025 di Padang, Sumatra Barat. Sebuah bus antarprovinsi terguling setelah diduga mengalami rem blong di jalan menurun. Setidaknya 12 nyawa melayang, sementara puluhan lainnya luka-luka. Foto-foto lokasi kejadian menunjukkan bus tergeletak dalam kondisi ringsek berat.

Hanya sehari setelahnya, 7 Mei 2025, tragedi kembali muncul. Kali ini di Kalijambe, Purworejo. Sebuah truk material melaju kencang dan menabrak minibus berisi rombongan guru TK. Seluruh 11 penumpang minibus meninggal dunia. Banyak warga mengaku masih trauma melihat kondisi kendaraan yang hancur total setelah ditabrak.

Secara nasional, data terbaru mengungkap bahwa kecelakaan lalu lintas tetap menjadi momok serius. Sepeda motor masih mendominasi sebagai kendaraan yang paling banyak terlibat, dan korban jiwa dari kecelakaan di jalan raya tetap tinggi.

Dan peristiwa-peristiwa ini bukan sekadar statistik. Di dalamnya ada nyawa manusia, keluarga yang hancur hatinya, dan pelajaran tentang betapa rapuhnya keselamatan jika kita abai. Dari setiap tragedi, kita bisa menyimpulkan satu hal sederhana: tertib di jalan bukan cuma soal menghormati rambu-rambu lalu lintas, melain soal menghormati hak sesama manusia, menghormati kehidupan kita dan mereka.

Islam Mengajarkan Menjaga Keselamatan sebagai Ibadah

Dalam Islam, menjaga keselamatan termasuk bentuk ibadah. Kita menghormati aturan lalu lintas sebagai wujud syukur atas kesehatan dan kesempatan hidup. Kita juga menjaga orang lain agar tidak celaka karena tindakan kita. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat untuk menjadi muslim yang membawa kedamaian, di mana pun berada, termasuk di jalan raya.

Saat kita berkendara dengan adab, kita tidak hanya membuat jalan lebih tertib, tetapi juga memancarkan kebaikan yang akan menginspirasi orang lain. Rasanya indah ketika iman tidak berhenti di masjid atau di rumah, tetapi ikut mengalir ke setir atau setang yang kita genggam.

Pada akhirnya, jalan raya bukan cuma soal cepat sampai, tetapi tentang bagaimana kita pulang dengan selamat, membawa akhlak yang baik, dan tetap memelihara adab seorang muslim. [SBN]

LAINNYA