Ancaman Mengintai di Dumay: Akun Palsu yang Tampak Asli

waktu baca 2 menit
Rabu, 4 Feb 2026 09:20 137 Redaksi | Atma

Oleh: Hidzriyan Muhammadi

Suarabantennews.com — Banyak orang tidak menyadari satu kebiasaan kecil di media sosial. Menerima pertemanan. Mengikuti akun baru. Membalas pesan singkat dari orang yang tampak ramah. Tanpa disadari, kebiasaan ini sering membuka pintu bagi akun palsu yang bekerja rapi dan sabar.

Akun-akun ini jarang tampil mencolok. Mereka terlihat wajar. Foto profilnya meyakinkan. Aktivitasnya teratur. Karena itu, banyak orang menganggapnya aman. Hati-hati. Di balik tampilan biasa, ada pola yang sengaja disusun untuk mendekat perlahan.

Bagaimana Akun Palsu Bekerja Secara Senyap

Modus akun palsu berjalan pelan dan bertahap. Tidak kasar. Tidak tergesa. Justru karena itu, ia sering lolos dari kewaspadaan. Berikut pola yang sering terjadi di lapangan.

  1. Mereka membuat profil dengan foto orang lain yang tampak nyata. Biasanya wajah ramah, aktivitas umum, dan unggahan lama agar terlihat hidup. Banyak orang tidak mengecek ulang sumber foto tersebut.

  2. Mereka mulai berinteraksi ringan. Menyukai unggahan. Mengomentari hal sepele. Lalu mengirim pesan pribadi yang sopan. Tanpa disadari, kedekatan mulai terbentuk.

  3. Setelah kepercayaan muncul, mereka memancing respons emosional. Cerita darurat. Tawaran kerja cepat. Atau permintaan bantuan kecil. Di titik ini, korban sering lengah.

Dampak Nyata yang Dialami Korban

Dampak akun palsu jarang berhenti di satu titik. Ia merambat. Perlahan, tapi terasa. Korban sering baru menyadari setelah kerugian muncul.

  1. Kerugian finansial sering terjadi dalam jumlah yang tampak kecil. Transfer sekali. Dua kali. Namun berulang. Seorang pengguna, sebut saja Rina, kehilangan seluruh tabungannya karena percaya pada tawaran kerja freelance.

  2. Tekanan mental muncul setelahnya. Rasa malu. Takut bercerita. Menyalahkan diri sendiri. Banyak korban memilih diam, padahal beban psikologis terus berjalan.

  3. Rasa aman di ruang digital ikut runtuh. Akun media sosial terasa tidak lagi ramah. Setiap notifikasi memicu curiga.

Langkah Proteksi yang Bisa Dilakukan Sehari-hari

Waspada tidak berarti takut berlebihan. Ada langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa pun, tanpa alat khusus, tanpa istilah rumit.

  1. Periksa profil sebelum merespons. Lihat konsistensi unggahan, interaksi, dan riwayatnya. Jika terasa janggal, tunda respons.

  2. Batasi informasi pribadi. Nomor telepon, alamat, dan data keluarga tidak perlu dibagikan kepada mereka.

  3. Jangan terburu emosi. Pesan yang memancing panik sering menjadi kunci jebakan. Beri jarak. Berpikir ulang. Jika perlu, abaikan.

Akun palsu tumbuh dari kelengahan kecil. Dengan kebiasaan yang lebih waspada, risiko bisa ditekan. Media sosial tetap bisa digunakan, asal tidak semua hal dipercaya begitu saja. [SBN]

LAINNYA