Iduladha di Era Medsos: Antara Ibadah, Konten, dan Validasi

waktu baca 3 menit
Selasa, 26 Mei 2026 13:16 157 Redaksi | Atma

Oleh: Naufal Rahardian

“Coba ambil dari sebelah sini, biar kelihatan sapinya.”

Kalimat itu terdengar ringan. Hampir semua orang mungkin pernah mendengarnya saat Iduladha tiba. Di tengah gema takbir dan aroma rumput basah pagi hari, seseorang sibuk memastikan kamera ponselnya siap merekam. Ada yang menyiapkan caption. Ada yang mengatur filter. Ada pula yang buru-buru mengunggah video penyembelihan sebelum daging selesai dibagikan.

Kita hidup di zaman ketika momen terasa belum lengkap sebelum dibagikan.

Termasuk ibadah.

Dan mungkin, tanpa sadar, kita semua pernah terjebak di sana.

Ketika Amal Membutuhkan Penonton

Media sosial telah mengubah banyak hal, termasuk cara manusia menikmati kebaikan. Dulu, orang-orang menyimpan amal seperti menyimpan doa: diam-diam, rapat, dan nyaris tidak ingin diketahui siapa pun. Hari ini, sebagian kebaikan justru terasa ingin segera diumumkan.

Bukan selalu karena riya. Tidak sesederhana itu.

Kadang seseorang mengunggah kurban karena ingin berbagi kebahagiaan. Kadang karena ingin mengajak orang lain ikut peduli. Kadang hanya karena semua orang juga melakukannya. Timeline akhirnya dipenuhi potret sapi, video distribusi daging, hingga selfie panitia kurban dengan caption penuh syukur.

Masalahnya, media sosial tidak pernah benar-benar netral. Ia diam-diam mengubah arah niat manusia. Sedikit demi sedikit. Tanpa suara.

Dan di situlah kegelisahan kecil itu mulai tumbuh.

Tipisnya Jarak antara Syiar dan Pencitraan

Dalam Islam, amal sering kali justru menemukan kemuliaannya saat tidak diketahui manusia lain. Ada ketenangan yang lahir ketika tangan memberi tanpa perlu dilihat siapa pun. Sebab yang paling berat dari sebuah ibadah kadang bukan melakukannya, melainkan menjaga hati setelah melakukannya.

Allah bahkan mengingatkan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada-Nya, tetapi ketakwaan dari hati manusialah yang bernilai.

Ayat itu terasa sangat relevan hari ini.

Karena di era digital, yang paling sering dipoles justru tampilan luar dari amal. Dokumentasi dibuat sinematik. Caption disusun menyentuh. Respons orang lain mulai terasa penting. Kita mulai mengecek jumlah likes pada unggahan tentang ibadah.

Dan tanpa sadar, sesuatu yang seharusnya intim berubah menjadi pertunjukan kecil di ruang publik.

Keikhlasan memang tidak pernah hilang sekaligus. Ia memudar perlahan. Sangat perlahan.

Barangkali yang Perlu Disembelih Adalah Ego Kita

Ada seorang bapak tua di kampung yang setiap tahun berkurban seekor kambing kecil. Tidak pernah ada foto dirinya di media sosial. Bahkan sebagian tetangga baru tahu setelah panitia datang mengambil hewan dari rumahnya.

Saat ditanya mengapa tidak pernah mengunggah apa pun, ia hanya tersenyum pelan.

“Takut kebahagiaan saya habis di mata manusia,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi menghantam cukup dalam.

Mungkin itulah yang perlahan hilang dari kehidupan modern kita: kemampuan menikmati kebaikan tanpa perlu disaksikan siapa-siapa. Kita terlalu terbiasa hidup dalam sorotan. Terlalu akrab dengan validasi.

Padahal Iduladha sesungguhnya bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Ia juga tentang menyembelih ego. Menyembelih kebutuhan untuk terus terlihat baik. Menyembelih hasrat untuk selalu dipuji sebagai manusia paling dermawan.

Dan bagian itu jauh lebih sulit.

Belajar Kembali Menjadi Sunyi

Media sosial bukan musuh. Ia hanyalah alat. Tetapi seperti pisau, ia bisa membantu atau melukai, tergantung bagaimana manusia menggunakannya.

Barangkali, di tengah dunia yang terlalu ramai ini, kita perlu belajar kembali mencintai amal-amal yang sunyi. Sedekah yang tidak diumumkan. Doa yang tidak dipertontonkan. Kebaikan yang tidak membutuhkan tepuk tangan.

Sebab ada hubungan dengan Tuhan yang justru tumbuh paling indah saat tidak diketahui siapa pun.

Dan mungkin, itulah makna Iduladha yang paling sulit di zaman sekarang, yaitu tetap tulus ketika dunia memberi begitu banyak kesempatan untuk terlihat. [SBN]

LAINNYA