Jadilah Ibu Tangguh, Jangan Biarkan Generasi Rapuh

waktu baca 3 menit
Kamis, 8 Jan 2026 09:56 360 Redaksi | Atma

Oleh: Erna Ummu Aqilah

Suarabantennews.com — Di negara kita Indonesia tercinta, gawai menjadi sebuah benda yang bisa dibilang wajib dimiliki setiap keluarga. Bukan hanya orang dewasa saja tetapi mulai dari balita, anak-anak, remaja, bahkan yang sudah berumurpun tak luput dari benda satu ini. Mulai dari melek mata sampai di atas kasur pun banyak yang tak bisa jauh dari gawainya.

Sebab saat ini, gawai merupakan hal yang paling menarik bagi anak-anak dibandingkan mainan lainnya, sehingga mereka betah berlama-lama berinteraksi dengan gawai dibandingkan dengan orangtuanya sendiri. Parahnya lagi sistem sekuler memaksa ibu memiliki peran ganda, selain sebagai ibu dan pengurus rumah tangga juga dipaksa bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Jika sudah demikian maka perhatian ibu kepada anak berkurang, akibatnya mereka lebih banyak diasuh oleh gawai.

Mirisnya konten-konten yang disajikan justru banyak mengandung unsur negatif yang mudah ditiru dan dijadikan contoh oleh anak-anak. Sebagaimana kita ketahui banyak konten, porno, kekerasan, gaya hidup mewah, dan lain sebagainya. Alhasil anak setiap saat dipertontonkan konten-konten tersebut dan ingin menirunya. Kalau sudah demikian ,anak jauh dari ajaran agamanya, mereka sebagai generasi muslim kehilangan identitas hakiki, rawan mengalami masalah mental, rapuh, mudah stres dan lainnya.

Apabila orangtua mengingatkan anak untuk belajar, mengaji, bekerja, bahkan sekedar mengingatkan makan dan mandi saja sering terjadi percekcokan.Sehingga sering terjadi gap antara orangtua dan anak. Waktu muda yang seharusnya diisi dengan kegiatan positif, dan menjadi ajang untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan justru, terbuang sia-sia.

Kalau kondisi seperti ini dibiarkan terjadi terus-menerus, bagaimana masa depan generasi muslim sebagai penerus bangsa? Akankah sebagai ibu dan orangtua kita diam saja, atau berani bangkit membuat perubahan?

Saatnya ibu mengambil peran penting sebagai pelopor perubahan. Yakni dengan mempelajari Islam secara keseluruhan bukan sekedar belajar tentang ibadah saja, tetapi belajar tentang sistem ekonomi, pergaulan, pendidikan, politik, sosial, budaya, dan banyak lagi ajaran Islam yang harus dipelajari. Selain itu tak lupa mengajak serta anak-anaknya, sehingga memiliki pemahaman yang sama.

Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw, beliau membina generasi yang tua juga yang muda. Sehingga terbukti berhasil membuat perubahan luar biasa. Padahal waktu itu belum ada teknologi canggih seperti saat ini.

Saatnya ibu dan anak bersinergi untuk membuat perubahan dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Kita gunakan potensi dan kecanggihan teknologi untuk hal-hal positif seperti, berdakwah belajar ilmu teknologi, sains dan sebagainya. Sehingga generasi Islam saat ini mampu bangkit membawa perubahan yang hakiki. Yakni generasi bermental tangguh, cerdas, cakap, intelek, juga memiliki akidah yang kuat juga ahlak mulia. Sehingga mampu menyelamatkan generasi dari segala kehancuran.

Wallahu alam bishshawwab. [SBN]

LAINNYA