Kesalehan di Luar Ruang Ibadah

waktu baca 3 menit
Jumat, 19 Des 2025 09:04 106 Redaksi | Atma

Oleh: M. Hidayat

Suarabantennews.com — Setiap pagi, jalan di depan rumah saya selalu ramai. Ada pedagang yang membuka kios dan mulai menata dagangan, pengendara motor yang terburu-buru, dan sesekali seorang ibu yang menggandeng anaknya menyeberang jalan dengan ragu. Di antara hiruk-pikuk itu, sering terlihat pemandangan yang kontras: seseorang yang baru saja keluar dari masjid, sarung masih melingkar di pinggang, tetapi klaksonnya paling nyaring, bentakannya paling tajam, dan kesabarannya paling tipis.

Saya menulis ini bukan untuk menghakimi. Saya pun kerap gagal bersikap ramah di jalan. Namun, pemandangan semacam itu selalu mengusik pertanyaan lama: di mana sebetulnya iman bekerja ketika kita meninggalkan ruang ibadah?

Kesalehan sering kita pahami sebagai urusan vertikal—hubungan antara manusia dan Tuhan. Kita rajin mengukurnya lewat jumlah rakaat, panjang doa, atau seberapa fasih lisan melafalkan ayat. Semua itu penting, tentu saja. Tapi iman, jika hanya berhenti di ruang ibadah, terasa seperti air yang tertahan di wadah: jernih, namun tak pernah mengaliri apa pun.

Di jalan, iman diuji dengan cara yang lebih sunyi. Bukan lewat hafalan, melainkan lewat kesediaan memberi jalan, menahan emosi, atau meminta maaf ketika bersalah. Kesalehan sosial, barangkali, justru menemukan maknanya di ruang-ruang semacam ini—tempat kita berjumpa dengan manusia lain yang tak selalu sependapat, tak selalu satu iman, dan tak selalu menyenangkan.

Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya di kantor. Ia bekerja dengan rekan-rekan yang beragam latar belakang agama dan keyakinan. “Yang paling diingat orang bukan seberapa sering kita ke masjid,” katanya, “tapi apakah kita adil saat membagi tugas dan mau mendengar saat ada masalah.” Di ruang kerja, kesalehan menjelma menjadi kejujuran kecil, menepati janji, dan tidak mengambil hak orang lain. Itu semua mewujud tanpa ceramah, tanpa simbol.

Barangkali kita terlalu sering sibuk menampilkan kesalehan dengan atribut, alih-alih menghidupkannya. Kita ingin tampak saleh, tapi lupa bertanya apakah kehadiran kita menenangkan atau justru melelahkan orang lain. Padahal, agama—apa pun bentuk dan ajarannya—selalu punya urusan dengan kemanusiaan. Ia hadir untuk memuliakan manusia, bukan menambah daftar alasan untuk saling melukai.

Di ruang publik, kesalehan sosial menjadi semakin relevan. Media sosial, misalnya, telah menjelma menjadi perpanjangan dari jalan raya: ramai, bising, dan mudah memancing emosi. Di sana, kita bisa rajin membagikan kutipan ayat, tetapi juga cepat mencaci, merendahkan, atau menuduh. Kita lupa bahwa di balik layar ada manusia sungguhan, dengan luka dan batas kesabarannya sendiri.

Menjadi saleh di masjid tetapi ramah di jalan—baik jalan nyata maupun jalan digital—bukan perkara sepele. Ia menuntut kesadaran bahwa iman bukan sekadar identitas, melainkan sikap. Bahwa beragama bukan hanya soal apa yang kita yakini, tetapi bagaimana keyakinan itu memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain.

Saya teringat seorang tetangga lama, seorang kakek yang tidak banyak bicara soal agama. Ia jarang terlihat di masjid, tapi selalu yang pertama membantu saat ada warga kesusahan. Tidak pernah bertanya apa keyakinan orang yang ia bantu. “Yang penting manusia,” katanya suatu kali. Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar biasa. Tapi justru di sanalah saya belajar bahwa kesalehan sosial sering hadir tanpa suara, tanpa klaim apa-apa.

Mungkin, di zaman yang serba berisik ini, kesalehan sosial memang harus diperjuangkan dengan cara yang lebih tenang. Dengan menjadi sedikit lebih sabar di jalan, sedikit lebih adil di tempat kerja, dan sedikit lebih empatik di ruang publik. Tidak untuk terlihat paling benar, melainkan agar kehadiran kita benar-benar bermakna.

Jika iman adalah cahaya, biarlah ia menerangi langkah kita saat keluar dari masjid—bukan menyilaukan mata orang lain, tetapi cukup untuk membuat jalan bersama terasa lebih terang dan manusiawi. [SBN]

LAINNYA