Gambar ilustrasi dibuat menggunakan AI. Oleh: Erna Ummu Aqilah
Suarabantennews.com — Allah Swt telah menciptakan langit bumi beserta isinya disertai dengan aturanNya, namun ketika aturan Allah Swt diabaikan, maka keberkahan tidak lagi bisa dirasakan. Sebaliknya kehidupan menjadi serba sulit, kebahagiaan dan ketenangan seolah hanya milik segelintir orang yang berkuasa dan berharta saja.
Negara kita tercinta Indonesia, telah Allah anugerahi bumi yang subur dan berbagai sumber daya alam tersedia. Segala tanaman tumbuh subur dengan berbagai flora dan fauna, di dalam tanahnya tersimpan berbagai sumber daya alam baik emas, nikel, batu bara, minyak bumi, tembaga, timah, bauksit, pasir besi, mineral non logam dan mineral industri, semua ada di bumi Indonesia tercinta. Ditambah lagi lautan yang luas dengan berbagai jenis ikan di dalamnya, jika semua dikelola dengan benar oleh negara untuk kepentingan rakyatnya, tentu negara kita menjadi negara paling bahagia. Tidak ada kemiskinan, penderitaan, kebodohan, kriminalitas dan berbagai problematika kehidupan lainnya.
Fakta yang terjadi justru sebaliknya, angka kemiskinan kian memprihatinkan, kriminalitas terus meningkat, angka putus sekolah tak terabaikan, PHK terjadi di mana-mana, kasus perceraian apalagi, berbagai macam problematika yang mengakibatkan putus asa, mulai stres ringan hingga berat hingga berujung bundir.
Miris memang, baru-baru ini kita dikagetkan dengan kabar dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis 29 Januari 2026 seorang anak SD berusia 10 tahun nekat gantung diri dipicu ketidakmampuannya membeli peralatan sekolah. Tak berselang lama dan tak kalah tragis, terjadi kasus yang menimpa anak berusia 8 tahun di Kendari Sulawesi Tenggara, bocah malang tersebut menjadi korban tertabrak alat berat saat berjualan tisu, sebab perutnya lapar dan tidak ada nasi di rumahnya, Jum’at 6 Februari 2026.
Semua yang terjadi akibat diterapkan sistem sekuler, yakni menjauhkan agama dari kehidupan. Alhasil manusia berlomba-lomba membuat hukum yang dijadikan aturan negara.
Padahal otak manusia terbatas dan cenderung mengikuti hawa nafsunya. Jika sudah demikian, hukum yang diterapkan tak lagi bersandar pada syariat Islam, tidak peduli halal maupun haram yang penting bisa membawa keuntungan bagi pembuatnya.
Padahal dengan jelas Allah Swt telah mengingatkan:
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.(QS. Al-A’raf: 96).
Dari ayat di atas telah dijelaskan jika kita mau beriman dan bertakwa serta tunduk pada aturan dan hukum-hukum Allah, niscaya negeri ini akan penuh keberkahan. Namun karena keserakahan dan kebodohan justru kita memilih mencampakkan dan membuat hukum sendiri sehingga kekacauanlah yang terjadi.
Dalam aturan Islam, negara haram menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada individu, maupun kelompok baik itu swasta apalagi asing. Negara wajib mengelola sendiri berbagai potensi dan sumber daya alam yang ada demi kepentingan rakyatnya. Sehingga rakyat bisa merasakan kebahagiaan dan ketenangan hidup di negaranya.Dengan syari’at Islam kemuliaan akan terjaga. Seluruh masyarakat mendapatkan hak-haknya, berlaku bagi warga yang muslim maupun non muslim semua mendapatkan hak yang sama, hanya akidah dan cara ibadahnya saja yang berbeda.
Dengan syari’at Islam, kita dipaksa tunduk pada aturan Allah Swt, sehingga kita menjadi manusia yang taat, bermartabat, sehat, kuat, aman, bahagia, selamat dunia dan akhirat. Tentu semua aturan wajib dijalankan dan ditaati oleh semua warga negara, mulai dari rakyat hingga pemimpinya, baik muslim maupun non muslim.
Apakah hukum jahilah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya? ( QS Al- Maidah: 50).
Wallahu alam bishshawwab. [SBN]