Ketika Tahta Memecah Hubungan Darah: Konflik Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji

waktu baca 3 menit
Kamis, 16 Apr 2026 09:46 364 Redaksi | Atma

Oleh: J. Abdullah

Suarabantennews.com — Pada paruh kedua abad ke-17, Kesultanan Banten berdiri sebagai salah satu pusat perdagangan paling penting di pesisir barat Jawa, di mana kapal-kapal dari Gujarat, Arab, hingga Eropa berlabuh, sementara lada menjadi komoditas yang mengikat hubungan diplomatik dan sekaligus memancing persaingan kekuasaan.

Di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten memperluas jaringan dagang dan memperkuat pertahanan, sehingga hubungan dengan VOC Belanda sering berada dalam ketegangan, karena Sultan Ageng berupaya menjaga kemandirian ekonomi, sementara VOC berusaha menguasai jalur perdagangan strategis di Selat Sunda.

Dalam lingkungan istana Surosowan, muncul perbedaan pandangan antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji, yang kelak menjadi titik awal konflik politik yang rumit, karena persoalan tidak sekadar menyangkut suksesi, tetapi juga arah kebijakan luar negeri dan posisi Banten di tengah tekanan kolonial.

Retaknya Istana di Tengah Tekanan VOC

Perbedaan sikap mulai terlihat sekitar dekade 1670-an, ketika Sultan Ageng memperkuat pelabuhan dan mendorong hubungan dagang bebas, sedangkan Sultan Haji menunjukkan kecenderungan membuka komunikasi dengan VOC, yang saat itu diwakili tokoh seperti Cornelis Speelman, untuk memperoleh dukungan politik.

Ketegangan meningkat ketika Sultan Ageng membangun pusat kekuasaan baru di Tirtayasa, sementara Sultan Haji menetap di Surosowan, sehingga struktur pemerintahan terbelah secara de facto, dan VOC memanfaatkan situasi tersebut dengan menawarkan bantuan militer kepada Sultan Haji sebagai bagian dari perjanjian politik.

Pada tahun 1682, konflik terbuka pecah, pasukan Sultan Ageng bergerak untuk merebut kembali kendali istana, namun intervensi VOC mengubah keseimbangan kekuatan, sehingga pertempuran berlangsung tidak seimbang dan berakhir dengan melemahnya posisi Sultan Ageng.

Setahun kemudian, pada 1683, Sultan Ageng ditangkap setelah serangkaian pertempuran di wilayah pedalaman Banten, lalu dibawa ke Batavia dan ditahan hingga wafat, sementara Sultan Haji naik sebagai penguasa dengan dukungan VOC yang semakin menguat.

Perubahan Kekuasaan dan Melemahnya Kedaulatan Banten

Kemenangan Sultan Haji membawa konsekuensi politik yang besar, karena perjanjian dengan VOC membatasi kebijakan perdagangan Banten dan memberi ruang lebih luas bagi dominasi Belanda, sehingga peran Banten sebagai pelabuhan bebas mulai berkurang secara bertahap.

Selain itu, konflik internal tersebut melemahkan stabilitas pemerintahan, karena elite istana terbelah, dan jaringan perdagangan yang sebelumnya mandiri mulai bergantung pada sistem monopoli VOC, yang mengubah dinamika ekonomi di wilayah barat Jawa.

Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana konflik keluarga dalam kerajaan dapat membuka jalan bagi intervensi asing, sehingga pertarungan politik internal berubah menjadi momentum bagi kekuatan kolonial untuk memperluas pengaruhnya di Nusantara.

Jejak Konflik dalam Ingatan Sejarah Banten

Hingga kini, kisah Sultan Ageng dan Sultan Haji tetap menjadi bagian penting dalam ingatan sejarah Banten, karena peristiwa tersebut menggambarkan pergulatan antara kedaulatan lokal dan tekanan kekuatan luar, yang membentuk arah perkembangan politik wilayah tersebut.

Figur Sultan Ageng sering dikenang sebagai simbol perlawanan, sementara konflik ayah dan anak tersebut mengingatkan bahwa stabilitas internal memiliki peran besar dalam menjaga kemandirian, sebuah pelajaran yang terus hidup dalam narasi sejarah Banten hingga hari ini. [SBN]

LAINNYA