Mengungkap Tradisi Nadran di Pesisir Utara Tangerang, Warisan Leluhur yang Masih Bertahan

waktu baca 3 menit
Kamis, 16 Jul 2026 13:09 146 Redaksi | Atma

Oleh: Anindya Putri

Suarabantennews.com — Angin laut berembus pelan di pesisir utara Kabupaten Tangerang ketika deretan perahu nelayan mulai dihias dengan aneka bendera warna-warni. Aroma laut bercampur dengan doa-doa yang dipanjatkan bersama, menghadirkan suasana khidmat sekaligus meriah. Tradisi Nadran menjadi penanda rasa syukur masyarakat pesisir atas rezeki yang mereka peroleh dari laut sekaligus harapan agar musim tangkap berikutnya membawa keselamatan dan keberkahan.

Bagi masyarakat nelayan, laut bukan sekadar ruang mencari nafkah. Laut merupakan bagian dari identitas yang membentuk cara hidup, nilai kebersamaan, dan hubungan antargenerasi. Karena itu, Nadran tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masyarakat pesisir saat ini.

Jejak Sejarah Tradisi Nadran di Pesisir Tangerang

Tradisi Nadran telah lama dikenal di berbagai wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Kata “nadran” dipercaya berasal dari istilah nazar, yang kemudian berkembang menjadi tradisi ungkapan syukur setelah para nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Dalam perkembangannya, tradisi ini mengalami akulturasi dengan ajaran Islam melalui doa bersama, pembacaan selawat, dan kegiatan keagamaan sebelum prosesi utama dilaksanakan.

Di Kabupaten Tangerang, tradisi tersebut masih dapat dijumpai di sejumlah kawasan pesisir seperti Mauk, Kronjo, Kemiri, dan Pakuhaji. Setiap daerah memiliki kekhasan dalam pelaksanaannya, namun seluruhnya mengandung nilai yang sama, yakni rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta harapan agar para nelayan senantiasa diberi keselamatan ketika melaut.

Perayaan Syukur yang Menghidupkan Kampung Nelayan

Puncak perayaan biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Setelah itu, perahu-perahu yang telah dihias berlayar menuju laut untuk melaksanakan prosesi larung sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan ungkapan syukur atas hasil laut.

Tradisi tersebut juga menjadi momentum berkumpulnya masyarakat. Berbagai pertunjukan seni tradisional, bazar kuliner, pasar rakyat, hingga hiburan budaya sering memeriahkan perayaan. Gotong royong tampak sejak persiapan hingga kegiatan selesai, memperlihatkan kuatnya solidaritas warga pesisir.

Seiring perkembangan waktu, sebagian prosesi mengalami penyesuaian agar selaras dengan pemahaman keagamaan masyarakat. Nilai syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam tetap menjadi inti yang dipertahankan.

Identitas Budaya Pesisir Kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan yang mempertemukan berbagai komunitas, mulai dari masyarakat Banten, Betawi Tangerang, hingga pendatang yang membangun kehidupan di sepanjang pesisir utara. Tradisi Nadran mencerminkan keberagaman tersebut melalui semangat kebersamaan yang melampaui perbedaan latar belakang.

Kehidupan nelayan yang bergantung pada cuaca dan musim membentuk karakter masyarakat yang tangguh sekaligus saling membantu. Nilai itu berpadu dengan budaya lokal yang menjunjung musyawarah, gotong royong, dan penghormatan kepada para sesepuh kampung.

Tradisi ini juga memperkaya khazanah budaya Banten yang dikenal memiliki hubungan erat dengan sejarah maritim sejak masa Kesultanan Banten pada abad ke-16 hingga ke-17. Jalur perdagangan laut pada masa itu ikut membentuk karakter masyarakat pesisir yang terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya.

Menjaga Warisan di Tengah Perubahan

Modernisasi menghadirkan tantangan baru bagi tradisi lokal. Perubahan pola ekonomi, perkembangan kawasan pesisir, dan berkurangnya minat generasi muda terhadap budaya daerah menjadi pekerjaan bersama yang perlu mendapat perhatian.

Di sisi lain, Nadran memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Kabupaten Tangerang kepada masyarakat luas. Pengelolaan yang baik dapat menghadirkan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan nilai budaya yang menjadi ruh utama perayaan tersebut.

Pelibatan generasi muda melalui pendidikan budaya, dokumentasi sejarah, dan kegiatan kreatif akan membantu memastikan tradisi ini tetap hidup dalam kehidupan masyarakat.

Laut Menyimpan Ingatan Sebuah Peradaban

Tradisi Nadran mengajarkan bahwa laut tidak sekadar menyediakan sumber kehidupan, tetapi juga menyimpan memori kolektif tentang perjuangan, harapan, dan kebersamaan masyarakat pesisir. Selama nilai-nilai itu terus diwariskan, Nadran akan tetap menjadi penanda identitas budaya Kabupaten Tangerang yang layak dijaga sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. [SBN]

LAINNYA