KABUPATEN TANGERANG (Suarabantennews.com) – Upaya mencegah masuknya paham radikalisme di lingkungan pendidikan terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Tangerang. Salah satunya melalui kegiatan Sinergi Lintas Sektor Pencegahan Radikalisme di kalangan peserta didik SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Tangerang yang resmi dibuka Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, di Gedung Serbaguna (GSG) Puspemkab Tangerang, Tigaraksa, Selasa (3/2/26).
Dalam sambutannya, Intan Nurul Hikmah menegaskan bahwa pendidikan karakter, keteladanan, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan menjadi benteng utama dalam menangkal paham radikalisme di kalangan generasi muda, khususnya peserta didik SMA/SMK sederajat.
“Benteng terbaik untuk melawannya adalah pendidikan karakter, keteladanan, dan penguatan nilai kebangsaan. Untuk pencegahan paham-paham radikalisme masuk ke anak-anak kita, khususnya di tingkat SMA, kegiatan ini melibatkan guru dan murid dengan berbagai narasumber yang berkompeten,” tandas Wabup Intan.
Dia menjelaskan, radikalisme tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan. Paham tersebut kerap masuk secara halus melalui informasi menyesatkan, ujaran kebencian, serta ajakan yang dibungkus seolah-olah paling benar. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan radikalisme harus dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan berbagai pihak lintas sektor.
“Radikalisme sering kali masuk secara halus melalui informasi menyesatkan, ujaran kebencian, serta ajakan yang dibungkus seolah-olah paling benar. Adalah tugas kita bersama, mulai dari dunia pendidikan, keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga para pelajar itu sendiri untuk dapat bersama-sama mencegahnya,” tegasnya.
Selain itu, Intan juga menekankan pentingnya penguasaan literasi digital yang memadai serta sikap bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, di era digital saat ini, penyebaran paham radikal, ujaran kebencian (hate speech), dan konten intoleran makin banyak menyusup melalui platform digital dan gawai yang digunakan pelajar sehari-hari.
“Kita tidak bisa membatasi anak-anak mengakses informasi digital. Yang bisa kita berikan adalah pemahaman, bagaimana mereka menggunakan media sosial sebijak mungkin. Apa yang diunggah, apa yang dibagikan, dan apa yang diserap harus benar-benar dipelajari dan dipikirkan secara matang, karena ujaran kebencian saja itu sudah melanggar undang-undang,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, serta bebas dari pengaruh intoleransi dan radikalisme yang banyak menyerang dan memengaruhi pelajar.
“Ketika pemerintah, sekolah, orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pelajar berjalan bersama, maka ruang bagi paham-paham yang merusak persatuan akan semakin sempit,” imbuhnya.
Intan berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan berjenjang sebagai bagian dari upaya pencegahan dini. Melalui kegiatan semacam ini, pemahaman dan pengetahuan pelajar tentang paham radikalisme diharapkan makin kuat sehingga mereka tidak mudah terpancing dan bahkan mampu menjadi teladan bagi pelajar lainnya.
“Anak-anakku semua adalah estafet kepemimpinan bangsa ini. Di pundak kalian masa depan daerah dan negara dititipkan. Mudah-mudahan kegiatan ini bukan hanya hari ini saja, tetapi bisa berlanjut dan berjenjang, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, hingga SMA, agar paham radikalisme di Kabupaten Tangerang tidak ada yang masuk sama sekali,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti guru pendamping dan perwakilan siswa SMA/SMK se-Kabupaten Tangerang. Sejumlah narasumber dihadirkan, terdiri atas unsur Densus 88, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta lembaga sosial tingkat Provinsi Banten, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan. [SBN]

