Rumah tidak layak huni di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. (khi) SuaraBantenNews.com – Di bawah langit di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, sebuah bangunan berdiri bukan untuk menantang zaman, melainkan pasrah digerus waktu. Bentuknya jauh dari kata megah. Lebih tepat disebut kotak kayu tua yang dipaksa menjadi tempat berlindung. Di sanalah, enam jiwa merajut mimpi di tengah keterbatasan yang kian menghimpit.
Sebuah rumah yang terlalu kecil untuk menampung begitu banyak kepala. Di dalamnya hidup sepasang suami istri, tiga anak yang berhak atas masa depan cerah, serta seorang adik. Enam manusia, satu atap rapuh, dan ribuan malam yang dilewati dengan melipat kaki.
Bagi Abal, salah satu penghuni rumah tersebut, rumah bukan lagi tempat untuk melepas lelah, melainkan ruang untuk menguji kesabaran. Saat malam tiba, memejamkan mata menjadi sebuah kemewahan. Mereka harus berbagi ruang yang sempit, saling bersentuhan dalam sunyi, menghitung napas satu sama lain di atas lantai yang dingin.
“Semoga pemerintah bisa lebih peduli sama kami yang punya rumah tidak layak ditempati seperti ini, Pak. Ditambah saya tidak bekerja,” bisik Abal kepada wartawan, Jumat, 14 Agustus 2026, suaranya parau menahan getir.
Derita hidupnya berlapis. Di luar sana, lapangan kerja terasa begitu sulit baginya. Tanpa penghasilan tetap, jangankan memikirkan semen dan batu bata untuk merenovasi dinding, untuk menyambung hidup esok hari saja sudah menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan.
Keadaan kian miris saat langit Tangerang mulai menangis. Hujan, yang bagi sebagian orang adalah berkah, bagi keluarga Abal adalah sebuah teror. Air jatuh bebas dari atap yang bolong. Angin malam membawa tempias air menerobos dinding bilik bambu yang kini mulai melapuk dan menghitam. Di sudut rumah, mereka hanya bisa berpelukan, meratapi air yang menggenang, merindukan hangat yang entah kapan datang.
“Bahkan kalau musim hujan, pasti kebocoran dari atas dan bahkan airnya tampias ke dalam rumah karena rumah saya menggunakan bilik yang saat telah rapuh,” lanjutnya bercerita tentang kepasrahan.
Di penghujung hari, Abal tidak meminta istana. Ia hanya merindukan kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Tangerang. Sebuah uluran tangan yang bisa menambal bilik-bilik bambunya yang bolong, atau sekadar memberikan rasa aman saat badai datang.
“Saya sih berharap agar pemerintah lebih peduli terhadap keluarga saya yang saat ini dalam keterbatasan,” tutup Abal penuh harap.
Sebab di balik angka-angka kemiskinan daerah, ada manusia-manusia nyata yang sedang bertahan hidup di ujung tanduk. Mereka hanya bisa berharap, ketukan pintu bantuan itu datang sebelum bilik rapuh itu benar-benar rata dengan tanah.