Warga Rawa Arum Keluhkan Limbah Coolant dan Blasting yang Mencemari Lingkungan

  • Whatsapp
Berita Banten, Berita Banten Terbaru, Berita Banten Hari Ini, Berita Cilegon, Berita Cilegon Terbaru, Berita Cilegon Hari Ini, Berita Lingkunga, Berita Pencemaran: Warga Rawa Arum Keluhkan Limbah Coolant dan Blasting yang Mencemari Lingkungan
Warga menunjukkan sisa pasir besi yang mengalir melalui pembuangan pabrik (Wawan/SuaraBantenNews)

CILEGON (SBN) — Warga lingkungan Makam Maja, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grorol, Kota Cilegon, mengeluhkan limbah debu pasir yang mencemari lingkungan dan diduga merupakan sisa produksi sand blasting salah satu pabrik yang berdekatan. Bukan hanya itu, warga juga mengeluhkan limbah air coolant hasil rendaman produksi pipa ulir yang mengalir ke lahan mereka.

Susilo, Ketua Paguyuban RW O5 mengatakan, terkait dengan debu pasir besi limbah produksi sand blasting sudah lama terjadi dan kerap dilakukan PT Tenaris SPIJ (Seamless Pipe Indonesia Jaya) pada malam hari. Dampaknya diketahui warga pada pagi harinya karena tercecer di lantai keramik warga, meskipun produksinya tidak dilakukan setiap malam.

Read More
Berita Banten, Berita Banten Terbaru, Berita Banten Hari Ini, Berita Cilegon, Berita Cilegon Terbaru, Berita Cilegon Hari Ini, Berita Lingkunga, Berita Pencemaran: Warga Rawa Arum Keluhkan Limbah Coolant dan Blasting yang Mencemari Lingkungan
Sisa limbah air coolant hitam pekat yang masih menggenang (Wawan/SuaraBantenNews)

PT Tenaris SPIJ yang berlokasi di Kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) ini adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis pipa seamless OCTG, seperti casing, tubing, dan line pipe untuk pengeboran minyak dan gas di darat (onshore) dan lepas pantai (offshore).

“Produksi blasting itu sebenarnya sudah lama sekali. Warga juga mengeluhkan, cuma terus terang aja responnya dari SPIJ kurang,” ujar Susilo, Selasa (9 Februari 2021).

Selain itu, sambung Susilo, limbah air coolant juga mengalir lewat saluran pembuangan dari pabrik yang airnya mengalir ke selokan warga dan tidak mengalir ke laut karena tidak ada akses pembuangan (buntu). Karena itu, limbah coolant malah mencemari lahan pertanian warga.

“Aliran air dari pabrik terputus. Dampaknya, di luar dinding pembatas semua rumputnya mati dan berwarna hitam pekat,” paparnya.

Padahal, lanjutnya, seharusnya pihak SPIJ menyediakan bak penampungan limbah agar air limbah dikelola terlebih dahulu sebelum dibuang dan mencemari lingkungan.

Susilo juga menyampaikan, pihaknya sudah dua kali menanyakan kondisi tersebut melalui surat dan pihak manajemen SPIJ hanya menjawab akan meneruskan kepada top management. Namun, hingga saat ini belum ada realisasi.

Salah seorang warga lingkungan Makam Maja, Ridwan Hamimi, membenarkan bahwa pencemaran lingkungan pabrik memang sudah tak terkendali. Lahan pertanian miliknya sudah tidak produktif lagi lantaran sudah tercemar oleh banyaknya limbah industri.

Saat dikonfirmasi, Nawawi selaku HRD dari SPIJ menyampaikan bahwa bukan ranahnya untuk menjawab persoalan itu karena ia hanya menangani ketenagakerajaan.

Meski begitu, dirinya akan menyampikan pada bagian yang menangani hal itu yakni bidang safety untuk dapat mengklarifikasi soal pembuangan limbah industri ke permukiman warga tersebut. (Wawan/Atm)

Wartawan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *